Selasa, 27 Desember 2011

Ujung Sua


Dik;
habis sudah kuluahkan rasa
tapi tiada kata yang tertumpah
rinduku membeku di ujung sua kita

Batam, 29 Desember 2011

Nyala Matamu


Sepasang nyala dari tatapmu
adalah penerang malam-malamku
jangan pernah engkau padamkan
aku kan tersesat di belantara hatimu

Batam, 29 Desember 2011

Hanyut

aku hanyut

kala cahaya matamu menggenang

mengalirkan riak kenangan

ke ujung rindu tak berkesudahan

Batam, 28 Desember 2011

Mereguk Rindu

kelak kutuang juga rindu ini

di gelas gelas kosong waktu

tak sempat kau bilas

aku kan mereguknya sampai mabuk...

Batam. 27 Desember 2011

Selasa, 15 November 2011

ATAN (Budak Pulau) Hasrat tak Sampai

Oleh : Ary Sastra

Telah Diangkat ke Layar Lebar

dalam Film "Laskar Anak Pulau"


Bagian I

Menjemput Masa Kecil


Bagian I

Menjemput Masa Kecil

Lama perempuan itu termenung di sisi Jembatan Barelang. Matanya tertuju ke hamparan pulau-pulau yang berada di sisi kanan jembatan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan itu. Sesekali ia menyeka airmatanya diiringi isak tertahan. Sayup-sayup terdengar, perempuan itu bersenandung dengan lirih. Orang ramai seakan tak dihiraukannya.

Tiba-tiba perempuan itu terjun ke laut. Orang-orang yang ada di sekitar jembatan itu berteriak kaget. Semua mata tertuju ke laut. Mereka menahan nafas. Tak lama kemudian, perempuan yang terjun itu muncul ke permukaan dan berenang menuju pulau yang berada persis di sisi kanan jembatan yang menjadi kebanggaan masyarakat Batam itu.

Wajah-wajah yang tadinya cemas, berubah ceria. Mereka malah bertepuk tangan memberikan aplus kepada perempuan yang terjun itu. "Ayo...hebat," sorak para wisatawan itu. Sebagian di antara mereka heran, dan bertanya-tanya siapakah perempuan itu. Namun karena tak mendapat jawaban, para wisatawan itu kembali asyik dengan kesibukannya masing-masing.

Perempuan yang terjun itu adalah Siti. Ia kini asyik berenang menuju Pulau Ketam, pulau kenangan baginya. Pulau Ketam bagi Siti, adalah tempat ia dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya.

Dan kini, kerinduan Siti untuk kembali ke pulau kelahirannya membuncah sudah. Setelah duapuluh tahun merantau ke Malaka, dan meraih gelar Doktor di Bidang Ilmu Kelautan, Siti ingin mengabdi ke kampung halamannya. Padahal selama di Malaka, Siti sudah menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan berskala internasional. Semuanya itu, rela ia tinggalkan. Begitu pula dengan puluhan pria yang ingin menikahinya. Siti, hingga kini masih sendiri, meskipun usianya sudah 32 tahun.

Tak sabar, Siti menunggu pancung yang biasa menambang ke Pulau Ketam. Kerinduannya untuk bertemu sanak saudara, dan teman sepermainannya tak terbendung lagi. Tak terbayang olehnya bagaimana rupa Timah, sobat karibnya yang konon sudah mempunyai lima orang anak. Begitu juga dengan Aling. Menurut kabar, Aling sekarang sudah menjadi manager di Batam. Sedangkan Suheimi, budak yang selalu menggoda dengan kelucuannya, menurut informasi telah sukses di Jakarta. Siti juga teringat dengan Awang dan Dulah. Kedua budak itu selalu membelanya, terlebih saat diganggu oleh budak-budak nakal yang biasa nongkrong di kedai Pak Somad.

Bagi Siti, laut dan gelombang adalah permainan keseharian. Tapi itu dulu. Usia telah menggerogoti staminannya. Siti mulai terengah-engah berenang menuju Pulau Ketam. Dalam keadaan nafas memburu, Siti mulai bergumam. Suaranya bersipongang, mengiringi kecipak ombak di gugusan kepulauan Rempang Galang itu. Sementara orang-orang yang berada di atas Jembatan Barelang sudah tak mempedulikannya lagi. Mereka asyik bercengkrama sambil berfoto-foto menikmati keindahan panorama di atas jembatan itu.

Tapi Siti tidak patah arang. Ia terus berenang. Tinggal beberapa meter lagi, di hadapannya sudah terhampar Pulau Ketam. Teman-teman masa kecilnya sudah memanggil manggil dan melambai-lambaikan tangan.

Di mata Siti, terlihat Timah, Aling, Awang, Dulah dan Suheimi sudah menunggu di pelantar. Mereka mengenakan seragam sekolah. Namun ia tidak melihat Atan. Bergegas ia berenang menghampiri budak-budak itu. "Eh Timah, Awak tak lihat Atan ke?" ujar Siti saat sudah naik ke atas pelantar.

Tapi temannya itu hanya menggeleng. Namun temannya yang lain, Suheimi, segera menimpali. “Eh Siti, awak macam mane ne. Kite kan nak jemput Atan, Ayo la cepat sikit,” ajaknya.

Siti langsung teringat,biasanya setiap mau berangkat sekolah mereka selalu mengajak Atan. Kebetulan rumah Atan tidak jauh dari pelantar perahu yang biasa menyeberangkan mereka pergi sekolah ke Pulau Sauh.

Entah kenapa, keinginannya untuk bertemu Atan begitu menggebu. Jujur saja, Siti sangat mengagumi budak yang selalu terlambat datang ke sekolah itu. Padahal, Atan hanyalah seorang budak miskin, yang selalu ke laut mencari ikan. Berbeda dengan kehidupan Siti yang berasal dari keluarga terpandang di wilayah Kepulauan Rempang Galang itu. Bapak Siti merupakan seorang Lurah yang disegani masyarakat. Tapi entah kenapa, perhatiannya selalu tercurah pada Atan, ada sesuatu yang membuatnya selalu memikirkan budak itu.

Siti mulai terhanyut. Namun kecipak ombak yang menjilat tiang-tiang pelantar membuyarkan lamunannya. Wajahnya merona merah. Buru-buru ia mengalihkan perhatian teman temannya. “Ayo lah kite ke rumah Atan. Sudah jam berape ni. Nanti kite terlambat ke sekolah,” ujarnya.

Budak-budak itu bergegas menuju rumah Atan.Sesampainya di rumah Atan mereka bersorak memanggil temannya itu. Akan tetapi, yang keluar hanya Mak Munah, Ibunya Atan, sambil menggendong Atin, Adiknya Atan. Dengan wajah merengut, perempuan itu balik membentak keenam budak itu.

”Woi..kalian ni bising sangat la. Atan tak ade di rumah. Budak tu sekarang lagi sibuk ke laut,” tukas perempuan itu sambil menatap teman-teman Atan dengan wajah tak senang.

Melihat Mak Munah marah, budak-budak itu hanya terdiam. Namun Siti memberanikan diri ”Atan tak sekolah ya Mak,” tanyanya.

Mak Munah kembali meradang.”Engkau ni emang degil la. Apa engkau tak dengar cakap Mak tadi. Atan tuh lagi ke laut. Bukan sekolah, pekak la engkau ni,” teriaknya.

Menyadari Mak Munah marah, Siti buru-buru pamit. ”Ye la Mak kami nak pergi sekolah dulu. Assalammualaikum,” ujarnya sambil berlalu diiringi teman-temannya.

Kini tinggal Mak Munah, dengan mata menjeling memandangi kepergian teman teman anaknya itu. Sambil kembali masuk ke rumah, ia menggerutu. Tapi Atin, adik Atan yang sedari tadi digendongan Mak Munah malah menyelutuk. ”Mak Atin juga ingin sekolah,” ujarnya.

Sontak tangan Mak Munah memukul pantat anak bungsunya itu. Dengan geram ia berkata,””Entah Atin, engkau tak usah sekolah. Untuk ape sekolah tu ha? Ape sekolah tu bisa kasih makan,” tukasnya.

Sementara teman-teman Atan sudah sampai di pelantar. Sembari menunggu pancung yang biasa menyeberangkan mereka ke Pulau Ketam, keenamnya bingung dengan sikap Mak Atan yang tidak setuju melihat anaknya sekolah.”Kok Mak Munah marah ye, kalau kite mengajak Atan ke sekolah? ujar Siti memulai pembicaraan. ”Tak tau lah, mungkin orangtue tu tak paham sangat manfaat sekolah tu,” sambung Suheimi.

Timah segera menengahi. ”Eh tak baek kita membicarekan orangtue. Sudahlah, pancung dah mau dekat tuh,” ujarnya sambil bersiap menenteng tas menuju tangga di ujung pelantar. Temannya yang lain terdiam, dan mengikuti Timah.

Tak lama, keenam budak itu sudah berada di atas pancung yang akan mengantarkan mereka sekolah ke Pulau Ketam. Tawa dan canda mereka, meningkahi buih ombak antara Pulau Ketam dan Pulau Sauh.

Berbeda halnya dengan Atan, yang terpaksa membantu bapaknya mencari ikan di laut.Saat teman-teman sebaya pergi sekolah, Atan masih bertungkus lumus dengan jaring. Meski demikian, di sela-sela kesibukannya, Atan masih menyempatkan membaca buku pelajarannya.

Prilaku Atan itu membuat Bapaknya kesal.”Cepat la sikit nak, engkau tebar jaring tu. Pasang udah naik ni. Nanti saja engkau baca buku,” ujar Bapaknya.

Namun mata Atan seakan tak mau lepas dari bukunya. ”Sekejap Pak, tinggal sikit lagi nih. Seminggu lagi Atan kan mau ujian,” tutur budak itu sambil membolak-balikkan halaman buku yang dipegangnya.

Sang Bapak segera meradang. Atan dihardiknya,”Ujian-ujian ape ha. Tak gune sekolah tu! Engkau lihat bapak engkau ni. Bapak engkau ni tak ade makan bangku sekolah. Tapi engkau liat, bisa juga hidup dan membesarkan engkau. Atan, kite ni orang laut, hidup kite tak jauh-jauh dari laut. Bapak engkau ni tanpa sekolah bisa mengerti tentang cuaca, membaca arah angin, tau tingginya gelombang dan dalamnya lautan. Bapak cume belajar dari alam ! Atan...alam ini sudah memberikan segalanya bagi kita. Dan alam juga yang memberikan kite pengertian-pengertian tentang hidup ini. Tapi terkadang, kite manusia ni serakah, dan merusak alam. Kite tak tak tau diri dan tak berterima kasih pade alam. Ye sudah, cepat engkau simpan buku tu,” perintahnya.

Sadar Bapaknya marah, Atan bergegas menebar jaring. Berkali ia mengangkat jaring, hanya dua tiga ekor saja ikan yang menyangkut. ”Macam mane Pak, tak ade ikan nih. Kite pindah saje ye?”

Bapak Atan akhirnya pasrah. ”Ya sudah, engkau kemas lah, kita pindah dekat karang sana,” ujarnya.

Sembari Bapak dan anak itu asyik berkemas, teman-teman Atan melintas dengan pancung yang mereka tumpangi. Begitu melihat Atan, Siti dan teman-temannya, berteriak memanggil. Budak-budak itu kembali mengajak Atan sekolah.

”Atan, awak nak sekolah ke?” teriak Siti. Namun Atan hanya terdiam. Budak itu melambaikan tangan ke teman-temannya.

Bapak Atan kembali menghardik anaknya itu. ”Woi..tak usah engkau pedulikan mereka. Ayo cepat kita pindah,” teriaknya.

Keduanya kini mulai mengayuh biduk, mencari daerah yang banyak ikannya. Lamunan Atan pun pupus sudah. Mimpi budak itu tersangkut di pucuk gelombang.

Tanpa terasa, petang sudah menjelang. Namun ikan yang ditangkap belum cukup banyak, tak sampai satu keranjang. Bapak dan anak itu mulai letih. ”Sudah lah Pak. Dah sore nih. Kita pulang saje. Lagi pula laut kite semakin keruh, ikan pun tak ade,” keluh Atan kepada bapaknya.

Tapi karena merasa ikan yang didapat cuma sedikit, sang Bapak tak mau kalah. ”Soal laut keruh ini bukan kesalahan kite. Tapi ini adalah kesalahan manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli pada lingkungan, membuang limbah seenaknya saje. Tapi kite ini orang kecil Tan, kite mau bicare ke mane soal laut kite ni,” keluhnya.

Merasa pembicaraannya ditanggapi, Atanpun menimpali. ”Kite kan bise tulis surat kepade Pak Lurah dan Pak Camat Pak. Nanti lah Atan tulis suratnya. Makenye Pak, sekolah tu ade gunenye juge kan?”

Sang Bapak karena merasa dinasehati anaknya, segera membentak. ”Woi, aku pula yang engkau nasehati. Bapak engkau sudah lama hidup daripade engkau, sudah banyak makan asam garam. Atan, engkau tuh masih kecil, jangan sok mengajari orangtuelah. Ayo cepat kemas. Kita pulang saja,” ketusnya.

Seiring dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat, Bapak dan anak itu berkayuh pulang. Saat asyik berkemas, sesampainya di Pulau Ketam, Atan kembali bertemu dengan Siti dan teman-temannya yang baru saja pulang dari sekolah.

”Atan, Woi Atan, tadi Ibu Lela menanyakan awak,” teriak Awang dari atas pelantar. Temannya yang lain, Aling tak mau ketinggalan. ”Iya Tan, tadi Bu Lela kasih pe el. Katanya pe el dikumpul minggu depan,” ujar budak keturunan Tionghoa itu.

Mendengar cakap Aling, Suheimi malah tertawa. ”Pe el? Pe er tau. Eh Aling, awak cakap tu yang betul sikit, jangan bikin orang bingung,” ledeknya.

Tapi Siti segera menengahi. ”Sudah lah. Kalian jangan bising. Eh Atan, awak tak perlu risau, nanti Siti pinjamkan buku catatan Siti,” teriaknya.

Suheimi kembali bertingkah. ”Ceilee..ada udang di balik bubu ni ye,” godanya sambil melirik Siti dengan gayanya yang lucu. Siti pun merengut dengan pipi merona kemerahan. Suasana sedikit kaku.

Namun kekakuan itu segera mencair, saat Atan bersorak dari atas biduknya. ”Iya Siti, makasih ye. Nanti saye ambil catatan awak. Awak baek sangat la,” ujarnya sambil mengemas jaring.

Senda gurau budak-budak itu, tak berlangsung lama. Bapak Atan terlihat tidak senang atas kehadiran teman-teman anaknya itu. "Tan, jangan engkau kemas jaring. Biar saje di biduk, nanti malam kite menjaring lagi. Ikan yang dah dapat tu cepat engkau antar ke toke Aleng. Jangan lupe engkau minta duitnya. Bilang ke toke Aleng jangan potong utang Bapak dulu ye," perintahnya sambil menjelingkan mata ke teman-teman Atan.

Budak-budak itu pun segera berlalu. "Woi Tan, kami balek dulu ye," sorak mereka.

Tinggallah Atan yang masih sibuk membenahi jaring yang kusut. Sebagai anak yang berbakti pada orangtua, budak itu segera mengerjakan perintah Bapaknya. Di ujung petang , Atan tergopoh-gopoh menyandang keranjang berisi ikan, untuk dijual ke toke Aleng.

Menyonsong kelam, Atan pun melangkah pulang. Budak itu melangkah dengan gontai, sambil menghitung duit yang diperoleh dari toke Aleng. Hari ini pendapatan dari penjualan ikan memang tidak banyak. Setelah ditimbang, cuma dapat tiga kilo, ikan Tamban. Di tangan budak itu, hanya ada selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu rupiah.

Begitu sampai di depan rumah, Maknya sudah menunggu. Bergegas ia menyonsong kedatangan anak sulungnya itu. “Tan, berape engkau dapat duit dari toke Aleng tadi? Cepat engkau kasih ke mak,” ujar Mak Munah sambil merampas duit yang masih dipegang Atan.

Buru-buru perempuan itu menghitung hasil penjualan ikan. Namun karena uang itu cuma lima belas ribu rupiah, ia berbalik meradang kepada anaknya. “Ape? Cuma lima belas ribu? Seharian engkau ke laut dengan bapak engkau cuma dapat duit segini? Atan, engkau jangan coba coba berduste ye. Mane lagi, ayo cepat keluarkan” tukasnya sambil memeriksa saku celana anaknya.

Tapi Atan menyanggah. “Tak ade Mak. Atan tak bohong. Duitnya hanya segitu. Tadi cume dapat tiga kilo ikan Tamban,” kilahnya.

Meski demikian Mak Munah tak langsung percaya dengan jawaban anaknya. Ia segera berteriak memanggil Bapak Atan. “Pak, engkau tengok la, berape duit yang dibawe anak engkau ni. Kalau duit segini, mane cukup untuk belanje, kite mau makan ape?” ungkapnya dengan kesal.

Bapak Atan hanya berteriak dari dalam kamar menenangkan istrinya. “Sudahlah Mak. Nanti malam kami ke laut lagi. Tadi memang dapat ikan sedikit. Laut kite sedang keruh. Mudah-mudahan malam ni kite dapat ikan yang banyak. Masak aje ape yang ade dulu,” ujarnya.

Mendengar jawaban suaminya, Mak Munah hanya melengos. “Ya sudah, saye nak ke warung dulu, beli beras,” tukasnya sambil berlalu.

Tinggal Atan sendirian. Budak itu hanya termangu. Atin, adiknya menghampiri. “Bang Atan tak shalat Maghrib ke?” tanyanya.

Atan segera tersadar dari lamunan. Bergegas ia masuk ke rumah. “Oh ye..abang lupe. Ayolah abang mandi dan ambil air wudhu dulu ye. Atin juge belum shalat kan. Nanti kite shalat bersama ye,” ajaknya kepada Atin.

Tak lama kemudian, terdengar lantunan ayat-ayat suci dari mulut Atan. Di belakang Atan, adiknya Atin berdiri sebagai makmum. Keduanya terlihat khusuk menunaikan shalat Maghrib.

Baru saja kedua budak itu mengucapkan salam, mengakhiri shalatnya, Mak Munah sudah berteriak-teriak dari dapur. “Atan, Atin, ayolah makan. Cepat sikit, nanti nasinya dingin. Mak cume masak ikan asin,” ujarnya.

Kakak beradik itu bergegas menuju dapur. Di dapur sudah menunggu Mak dan Bapak. Namun baru menikmati dua suap nasi, Bapak Atan menyela. “Tan, jangan lame-lame makannya. Sebentar lagi kita balek ke laut. Jangan lupe engkau siapkan lampu strongkeng tu,” perintahnya sambil membasuh tangan.

Selera Atan langsung hilang. Budak itu pun mengakhiri makan malamnya. Nasinya segera disalin ke piring adiknya, Atin. Ia bergegas mempersiapkan lampu strongkeng yang biasa tergantung di tengah rumah.

Tak lama, budak itu terlihat sibuk memompa lampu strongkeng yang sudah karatan di makan usia. Setelah semua peralatan siap, bapak dan anak itu melangkah membelah temaram malam. Keduanya berkayuh, menebar jaring di tengah gulita, berteman riak dan gelombang. (****)

Bagian II

Untung Badan

Siang di Pulau Ketam. Atan baru saja pulang mencari udang. Sayup-sayup terdengar Mak Joyah berdendang. Alunan suara perempuan itu selalu menarik perhatian Atan. Entah kenapa, ia merasa nyaman setiap mendengarkan syair-syair yang didendangkan Mak Joyah.


Begitu melewati rumah Mak Joyah, budak itu langsung menghampiri dan duduk di samping perempuan tua itu. Lama ia terpaku menikmati syair-syair lagu yang dilantunkan Mak Joyah. Sambil berdendang, Mak Joyah mengelus-elus kepala Atan. Usai Mak Joyah berdendang, Atan langsung berpamitan sambil mencium tangan perempuan itu.

Atan melenggang menuju rumahnya sambil menenteng beberapa ekor udang. Sesekali matanya melirik ke atas, ke arah matahari. Sampai di rumah, Atan langsung menyelinap ke dapur. Buru-buru disalinnya udang yang dibawanya ke dalam keranjang. Namun karena kurang kurang hati-hati, Atan menjatuhkan panci yang terletak di atas tempayan.

Mendengar suara berisik, Mak Munah yang sedang tidur-tiduran bergegas ke dapur. "Oh engkau Tan. Mak kire kucing tadi. Banyak engkau dapat udang ke? tanya perempuan itu sambil melongok isi keranjang Atan.

Saat mengetahui isi keranjang itu hanya beberapa ekor udang saja, Mak Munah langsung meradang. "Ape? cume ini udang yang engkau dapat? Tak cukup sekilo ini Tan? Kalau pun dijual duitnye cume berape he?" tanyanya dengan nada kesal.

Atan hanya tertunduk. Ia tak berani menatap matanya Maknya. "Iye Mak, nanti sore Atan cari lagi sehabis pulang dari sekolah," kilah budak itu.

Mak Munah tidak mau menerima alasan anaknya."Ape? engkau mau sekolah. Lalu kite mau makan ape ha? Atan, engkau tau tak, Bapak engkau tu lagi sakit. Lalu siape yang cari duit, kalau bukan engkau ha?" teriak perempuan itu dengan suara melengking sambil bergegas menuju kamarnya.

Tak lama Mak Munah kembali lagi ke dapur sambil menenteng radio. "Cepat engkau bawa radio ini ke kedai Abah Asiong. Tukar saje dengan dua kilo beras," perintahnya. Atanpun langsung membawa radio ke kedai Abah Asiong.


Belum lama Budak itu pergi, dari luar rumah terdengar suara memanggil manggil Atan. Mereka adalah Siti dan teman-temannya. "Tan, Atan, sekolah Tan. Ayo sekolah Tan. Siti dah buatkan pe er awak," teriak Siti.


Mak Munah langsung ke luar rumahnya. Dengan mata menjeling, ia membentak teman-teman anaknya itu. "Woi budak, jangan bising. Bapak atan lagi sakit. Lagian Atan tak ade di rumah. Kalian pergi aje sekolah. Tak usah ajak-ajak Atan," hardiknya.


Nyali budak-budak kecil itu langsung ciut. Wajah mereka tertunduk, tak berani menatap sorot mata Mak Munah. "Maaf Mak, kami tak tahu Bapak sakit. Bapak sakit ape Mak?" tanya Suheimi memberanikan diri.


Namun Mak Munah, masih dengan wajah berangnya kembali membentak. "Ape urusan kalian ha. Tak taulah Bapak atan tu sakit ape. Sudah, cepat la berambus kalian dari sini," teriaknya.


Dengan raut wajah kecewa, budak-budak itu berbalik badan. Mereka tetap berangkat ke sekolah. Tapi sayang, tanpa kehadiran Atan, sahabat mereka.


Di saat teman-temannya sudah berangkat ke sekolah, Atan masih melenggang menuju ke kedai Abah Asiong. Setibanya di kedai itu, ia melihat Abah Asiong sibuk melayani beberapa pembeli. Takut terlambat ke sekolah, Atan tak mau menunggu. Ia langsung menyodorkan radio ke Abah Asiong. "Ini Bah. Kate Mak ditukar dengan dua kilo beras saje," ujarnya dengan nada polos.

Abah Asiong yang sedang asyik dengan sempoanya, langsung berpaling dan mengernyitkan keningnya. "Walan..Atan..Atan. Tiap hali Mak lu gadai telus ha. Kemalin, mesin jahit, sebelumnya kain salung, pelnah juga Mak lu gadai jam dinding. Hayyaaa...kalau tiap hali macam ni wa mana sanggup. Coba sini wa liat mana ladionya," ungkap Abah Asiong sambilmengambil radio dari tangan Atan.

Setelah mengamati radio itu, Abah Asiong hanya mengeleng-geleng. "Tak bisa. Eh Atan lu cakap sama Mak lu ya. Ini ladio udah butut. Wa cuma belani tukal sama dua kilo belas saja ha," tawar Abah Asiong diikuti tawa sinis dari pembeli lainnya.

Karena takut terlambat sekolah, Atan langsung menerima tawaran dari Abah Asiong. "Ya sudah Bah, sekilo beras pun tak ape la," ujarnya.

Tak lama, Atan terlihat sudah menenteng beras keluar dari kedai Abah Asiong. Budak itu berjalan dengan tergesa-gesa. Sesekali ia melirik ke arah matahari. Di persimpangan jalan menuju rumahnya, Atan bertemu dengan dengan teman-temanya.


Siti memulai pembicaraan. "Eh itu Atan. Atan, awak ke mane aje. Tadi kami ke rumah awak. Cepat la salin baju sekolah awak. Siti udah buatkan pe er awak," soraknya dengan nada senang saat melihat Atan.


Atan tersenyum. Namun di balik senyum itu, tersimpan beribu kepedihan. "Ye, saye sekolah. Kalian pergi aje dulu. Nanti saye menyusul. Saye nak antar beras ke rumah dulu," ujarnya sambil berlalu.


Budak-budak itu hanya terpana melihat kepergian Atan. Sedangkan Atan mempercepat langkah menuju rumahnya. Setibanya di rumah Mak Munah sudah menunggu. "Macam mane Tan. Dapat engkau tukar radio tu dengan beras," tanya perempuan itu dengan penuh harap.

Atan segera menyerahkan beras ke Maknya. "Ah cume sekilo beras saje Mak. Kate Abah Asiong radio kite sudah butut, tak laku untuk dijual lagi," ujarnya sambil bergegas ke luar rumah.

Raut wajah Mak Munah sedikit kecewa. "Tak ape la, sekilo beras cukup buat makan kite due hari," hiburnya pada Atan.

Namun saat mengetahui Atan sudah di luar rumah, Mak Munah kembali berteriak memanggil anaknya. "Woi Atan, engkau nak ke mane," soraknya.

Atan yang sudah di luar, menyahuti panggilan Maknya. "Mak, Atan nak sekolah dulu. Nanti petang Atan cari ketam lagi. Atan pergi ye Mak. Assalammualaikum," tukasnya.

Mendengar jawaban anaknya, Mak Munah semakin berang. "Ape? Memang degil engkau ye. Awas engkau balek nanti. Engkau terimalah rotan dari Mak ye," ancamnya dengan suara melengking.

Atan tak lagi mempedulikan ancaman Maknya. Budak itu sudah kabur, buru-buru menuju pelantar. Sesampainya di pelantar Atan meminta Pak Cik Udin, yang biasa menambang ke Pulau Sauh untuk menyeberangkannya. Namun karena uangnya hanya seribu rupiah, Pak Cik Udin menolak untuk menyebrangkan budak itu. "Tak bisa. Duit engkau cume seribu rupiah. Mana cukup duit segitu. Solar sekarang mahal. Apalagi hanya engkau sendiri yang hendak saye antar. Rugilah Pak Cik ini," tolak lelaki yang tengah asyik bermain catur itu.

Sedangkan Atan sudah tak mempedulikan lagi jawaban dari Pak Cik Udin. Budak itu sibuk membuka baju dan membungkusnya dengan kantong plastik. Selagi Pak Cik Udin asyik memikirkan buah caturnya, tiba-tiba terdengar bunyi "Byuurrrrr" kecipak airnya membasahi penambang perahu itu.


Pak Cik Udin meradang. "Woi, kurang ajar engkau ya. Lihat-lihat sikit kalau mau terjun tu. Awas, nanti kukadu same bapak engkau ya Tan," hardiknya.

Sementara itu Atan sudah berenang ke Pulau Sauh yang jaraknya tidak sampai lima puluh meter dari Pulau Ketam. Bagi atan, hal itu sudah menjadi kebiasaan setiap hendak pergi sekolah. Jangankan uang jajan, untuk ongkos pancung saja, ia tak punya, sehingga terpaksa berenang pergi sekolah. Sedangkan pulang dari sekolah, Atan sering dibayarkan ongkos pancung oleh Siti. Tapi terkadang Budak itu, menolak pemberian Siti. Menurutnya, Biarlah ia berenang, asal jangan sampai termakan budi. Begitu prinsipnya.

Nafas Atan terengah-engah, saat sampai di bibir pantai Pulau Sauh. Dengan tubuh basah kuyup, budak kecil itu menyelinap ke semak-semak. Di bawah pokok kayu, yang ada lubangnya, ternyata Atan selalu meletakkan buku-buku, dan baju sekolahnya. Buru-buru ia menyalin baju.

Tak lama Atan sudah berada di gerbang sekolah yang sudah terkunci. Suasana sekolah sudah sepi. Murid-murid tengah belajar di dalam kelas.

Tak mau menunggu, Atan langsung melompati pagar sekolahnya. Dengan wajah ketakutan, Atan mengucapkan salam saat berada di pintu kelas. Bu Guru Lela yang sedang mengajarkan pantun, seketika menoleh kepada budak itu.

"Atan, Atan, awak selalu saja terlambat. Ya sudah, sekarang awak belajar saja, nanti saat jam istirahat temui saya di ruang guru ya," ujarnya sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Atan hanya terpaku. Ia berusaha menjelaskan alasan keterlambatannya. "Maaf Bu. Saye tadi sibuk mencari udang. Bapak saye sakit, sehingga saya terpaksa menggantikan bapak ke laut," kilahnya.

Mendengar jawaban Atan, Bu Lela hanya terpana. "Ya sudah, awak duduklah. Jangan lupa nanti temui saya ya," ulangnya lagi.

Atan berjalan tertunduk saat memasuki kelasnya. Namun keterlambatannya membuat sebagian teman-temannya tertawa dan mengejek. Suasana kelas menjadi gaduh. Bu Lela terpaksa menenangkan dengan meninggikan suaranya. "Heh, apa yang kalian tertawakan. Memang ada yang lucu ya. Apa kalian senang melihat teman kalian susah. Tidak baik seperti itu. Mestinya kalian prihatin dengan keadaan teman kalian itu," hardik Bu Lela menasehati murid-muridnya.

Ruang kelas kembali hening. Bu Lela melanjutkan pelajarannya. Beberapa saat kemudian, pegawai tata usaha datang. Ia terlihat bercakap-cakap dengan Bu Lela sambil menunjuk nunjuk ke arah Atan.

Tak lama, Bu Lela memanggil Atan. "Atan, awak ikut dulu sama Pak Jamin, tata usaha sekolah kita. Untuk sementara, awak tak boleh belajar. Sebaiknya awak selesaikan dulu pembayaran uang buku dan uang baju dengan Pak Jamin ya," ujar Bu Lela dengan nada prihatin.

Mendengar perintah gurunya itu, Atan dengan gontai melangkah ke luar kelas. Sesampainya di luar kelas, budak itu tidak langsung menuju ruang tata usaha sekolah. Atan berdiri di dekat jendela, mengikuti pelajaran. Bu Lela yang mengetahui tingkah budak itu, membiarkan Atan yang mengintip-intip dari jendela kelas.


Saat lonceng istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan ke luar kelas. Siti dan teman-temannya berupaya mencari Atan di halaman sekolah. Tapi Atan sudah tak ada lagi. Budak itu sudah buru-buru pergi saat lonceng istirahat berbunyi.


Dengan kecewa, teman-teman Atan berkumpul di koridor sekolah. Beberapa saat mereka terdiam dan hanyut dengan pikirannya masing-masing.


Suheimi memecah keheningan itu. "Kasihan Atan ye. Masa untuk bayar uang buku dan uang baju saje bapaknye tak sanggup," ungkapnya penasaran.


Dulah menimpali. "Lagian sekolah kok tega ye mengusir Atan. Padahal kite kan mau ujian," tuturnya.


Siti akhirnya angkat bicara. "Eh kalian kan tahu, Bapak Atan tu sedang sakit. Mana ade duit untuk bayar uang buku itu. Semestinye kita berpikir bagaimane membantu Atan," ajaknya.


Tiba-tiba Awang bersorak. "Saye ada akal. Bagaimane kalau kite kumpul duit untuk membantu Atan. Mungkin ini bisa untuk membyar uang buku dan uang baju yang tertunggak itu," usulnya dengan semangat.


spontan, teman-temannya menyambut usulan Awang. Mereka pun merogoh kantongnya masing-masing untuk dikumpulkan.


Tiba-tiba Bu Lela muncul dari belakang. Guru itu menanyakan uang yang dikumpulkan murid-muridnya itu. "Eh kalian sedang apa ha? Untuk apa kalian mengumpulkan itu," tanya dengan heran.


Awang segera menjawab. "Kami kumpul duit buat membantu Atan Bu. Mungkin sumbangan ini bisa membantu Atan," tuturnya.


Bu Lela menyambut gembira upaya teman-teman Atan itu. Malahan, ia ikut memberikan sumbangan untuk membantu Atan. "Bagus, Ibu sangat senang sekali dengan sikap kalian ini. Kita ini memang harus saling membantu. Nah ini, Ibu juga ikut menyumbang," ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang seribuan. Teman-teman Atan itu kemudian melanjutkan pengumpulan sumbangan ke kelas lainnya.


Hanya beberapa saat, Siti dan teman-temanya sudah mengumpulkan setengah kantong uang logam recehan. Hanya beberapa lembar saja uang ribuan yang mereka dapatkan.


Sepulang dari sekolah, mereka bergegas ke rumah Atan. Budak-budak itu sangat bersemangat mengantarkan sumbangan yang mereka peroleh kepada Atan, sahabat mereka.


Sesampainya di rumah Atan, mereka bersorak memanggil sahabatnya itu. Namun ternyata Mak Munah yang berdiri di depan pintu. Wajah budak-budak itu mendadak pucat.


"Eh..budak tengking. Mak kan sudah cakap, Bapak Atan tu sakit. Kalian jangan berisik. Ade ape kalian cari Atan. Budak tu tadi katenye pergi sekolah. Ape kalian tak jumpe Atan di sekolah ye?" tanya Mak Munah dengan heran.


Dulah duluan bicara. "Tadi Atan ade jumpe di sekolah Mak. Tapi ia tak boleh masuk ke kelas karena belum bayar uang buku dan uang baju Mak," jawabnya.


Mak Munah tersenyum sinis. "Huh..tadi Mak sudah larang budak tu pergi sekolah. Tapi dia degil. Itu akibatnya karena tak patuh same orangtue. Lagipula apak atan tu sedang sakit, mana sempat cari duit nak bayar buku dan uang baju tu?" ujarnya seperti menasehati teman-teman Atan.


Siti menghampiri Mak Munah. Ia menyerahkan kantong plastik berisi uang hasil sumbangan teman-teman Atan di sekolah. "Ini Mak, tadi kami mengumpulkan sumbangan untuk membantu Atan," ujar siti.


Wajah Mak Munah berubah cerah, setelah mengetahui teman-teman Atan menyerahkan duit. Buru-buru ia mempersilakan budak-budak itu masuk ke rumah. "Ape? Duit? Kalian ni baik sangat la. Kebetulan Mak memangbutuh duit untuk mengobati Bapak Atan. Kalian naik dulu lah ke rumah," ajak Mak Munah berbasa-basi.


Mendengar jawaban Mak Munah, teman-teman saling berpandangan. Dulah buru-buru menyanggah. "Tapi duit itu bukan untuk biaya berobat Mak. Duit itu kami kumpul untuk membantu Atan melunasi uang buku dan uang baju. Kami ingin Atan sekolah dan bersama-sama kami lagi. Jangan lupe nanti diberikan ke Atan ye Mak," tegasnya.


Mak Munah terdiam sesaat. Teringat duit sudah di tangan, ia kembali mengajak teman-teman Atan mampir. "Ya nanti Mak sampaikan ke Atan. Kalian naik dulu, nanti Mak buatkan teh," bujuknya lagi.


Akan tetapi, teman-teman Atan yang sudah paham tabiat Mak Munah itu buru-buru pamit. "Tak usah repot-repot la Mak. Kami balek dulu ye Mak. Assalamualaikum," serempak mereka memberikan salam, dan berlalu. (***)

Mau tau kelanjutannya? Tunggu penerbitan novelnya ya....