Halaman

Kamis, 21 Agustus 2014

Nyanyian Ayah

by : Ary Sastra

Ayahku hanyalah seorang pegawai kecil di sebuah instansi pemerintah. Sebagai pegawai kecil, tentunya gaji ayahku kecil pula. Maklumlah, ayahku cuma lulusan SMA.

Jabatan tertinggi yang pernah diduduki oleh ayahku, adalah Kepala Bagian Tata Usaha. Itupun diperolehnya karena pengalamannya, setelah lebih dari tigapuluh tahun mengabdi.

Setiap bulan ayah selalu membawa jatah beras dari kantornya ke rumah kami. Kami tinggal di sebuah rumah sederhana, yang dicicil ayah ke bank BTN setiap bulannya.

Selama menjadi pegawai, ayahku pernah memiliki sepeda motor merek Suzuki. Kendaraan itu kemudian dijual setelah beliau mendapat jatah sepeda motor plat merah, Honda CB 100.

Dengan kendaraan itulah, ayah mengantarkan enam anaknya pergi ke sekolah setiap pagi. Kakakku, aku dan adik perempuanku bersekolah di dekat rumah nenek, yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari rumah kami. Sedangkan tiga adikku lagi, jarak sekolahnya tidak begitu jauh dari rumah kami.

Meski demikian ayah selalu selalu setia mengantarkan semua anak-anaknya untuk bersekolah. Mulanya ayah akan mengantarkan tiga adikku, yang jarak sekolahnya relatif dekat. Kemudian barulah tiga anaknya lagi, yaitu aku, kakakku dan adik perempuan sembari ayah juga berangkat ke kantornya.

Kami berboncengan empat. Aku duduk di depan, di tangki sepeda motor, sedang adik dan kakakku di belakang.

Ayah akan menjemput kami kembali sesudah pulang dari kantornya. Ia tidak khawatir karena kami bisa menunggu di rumah nenek. Biasanya ayah akan menjemput kami sekitar pukul tiga atau empat sore.

Dulu, sebelum memiliki rumah, kami tinggal di rumah nenek. Waktu itu anak ayahku masih tiga, yaitu aku, kakakku, dan adik perempuanku. Sedangkan tiga adikku yang lain, lahir setelah ayah mencicil rumah kreditan. Makanya sekolah aku, kakakku, dan adik perempuanku tak jauh dari rumah nenek.

Setelah tamat SD, aku sudah jarang dibonceng ayah dengan sepeda motornya. soalnya, aku diterima di SMP Negeri yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah nenekku. Jadinya, aku tinggal bersama nenekku lagi.

Sampai aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri, aku masih tinggal bersama nenek. Meski demikian ayah selalu datang menanyakan perkembangan kuliahku dan memberi uang jajan.

Meski gaji ayah kecil, segala kebutuhan pendidikan kami tetap dipenuhinya. Sebab ayahku mempunyai profesi sampingan yaitu sebagai penyanyi. Terkadang pemasukan ayahku dari menyanyi melebihi gajinya sebagai pegawai negeri.

Ayahku sering diminta menjadi pelatih paduan suara untuk ibu-ibu dharma wanita, atau kelompok-kelompok tertentu. Malahan ayahku sering menjadi juri pada event-event tertentu. Namun sayang, hobi dan kesukaan ayahku itu tidak bisa dilanjutkan karena pekerjaannya sebagai pegawai negeri tidak bisa ditinggalkan.

Terkadang ayahku masih sering tampil, di luar jam kantornya atau pada malam hari. Aku sering diminta menemaninya hingga larut malam. Biasanya seusai acara, sebelum pulang kami selalu singgah untuk makan di sebuah kedai nasi dekat pasar.

Setiap berjalan dengan ayah, selalu saja ada orang yang menyapa atau menyalaminya. Ayahku memang banyak kawan, dan dikenal orang. Apalagi profesinya sebagai penyanyi yang sering mendampingi artis-artis ibukota.

Kalau dilihat dari tampang, rasanya ayahku tidak cocok jadi pegawai. Ayahku gagah, punya kumis dan jambang yang tebal. Sorot matanya tajam, mirip bintang film India. Bila sudah bernyanyi, semua orang pasti akan terpukau mendengar suaranya.

Bakat menyanyi dari ayah tersebut, menurun kepada semua anak-anaknya. Kami, semua anak-anaknya memiliki suara yang merdu dan pandai menyanyi. Sayangnya, tidak satupun di antara anak-anaknya yang menekuni bidang tarik suara ini.

Waktu kecil aku memang sering ikut festival atau lomba menyanyi. Aku bahkan pernah menjadi suara porseni bidang solo song dan paduan suara. Sering juga aku diajak ayah, nyanyi berduet untuk mengisi acara tertentu.

Masih terbayang olehku, bagaimana kami berdua memukau penonton di auditorium RRI, saat menyanyikan lagu "Babuai" ciptaan ayahku sendiri. Lagu itu memang diciptakan ayah untuk menidurkan anak-anaknya.

Saat itu, kami berbagi suara. Ayah pada suara satu sedangkan aku pada suara dua. Tepuk tangan membahana saat lagu yang kami nyanyikan berakhir. Aku betul-betul bangga pada saat itu.

Kebanggaan tersebut masih aku rasakan sampai saat ini. Meski hampir lima belas ayah pergi meninggalkan kami, suaranya, nyanyiannya masih terngiang di telingaku.

Sesekali aku masih menyanyikan lagu "Babuai" ciptaan ayah. Tak lupa sepotong doa kuselipkan untuk ayah, Al Fatihah....(arysastra)

Senin, 18 Agustus 2014

Tole Chaniago

By : Ary Sastra

Tole chaniago namanya. Memang agak aneh kedengarannya. Nama tersebut merupakan hasil kesepakatan kedua orangtuanya, yang berasal dari Jawa dan Padang.

Awalnya sang ibu, Rukayah menginginkan nama anak pertamanya itu harus sesuai menunjukkan cirinya sebagai keturunan minangkabau. Apalagi kelak ia akan menyandang gelar adat, dari ninik mamaknya,  dari kaum ibunya.

Sebaliknya, sang bapak, Sarmijo, juga menghendaki agar namanya menunjukkan identitas sebagai orang Jawa. Ia menginginkan anaknya kelak menjadi seorang kesatria, seperti dalam cerita pewayangan, Ramayana.

Karena keduanya bersikeras dengan usulan masing-masing, akhirnya diambil jalan tengah. Sang ibu menginginkan pada nama anaknya tetap melekat nama sukunya, yaitu Chaniago. Sedangkan sang bapak, mengusulkan nama Tole, panggilan kesayangan bagi anak laki-laki di tanah Jawa. Jadilah Tole Chaniago nama anak mereka.

Sarmijo dan Rukayah adalah pasangan yang sukses dalam mengelola sejumlah restoran di ibukota. Mereka juga mengembangkan usahanya di bidang catering yang sudah merambah hingga ke berbagai negara.

Dulunya, keluarga Sarmijo dan Rukayah selalu berseteru. Ibu Sarmijo, Ngatinem adalah seorang pemilik warung Tegal yang letaknya bersebelahan dengan rumah makan Padang milik Ajo Suardi, ayah Rukayah.

Walaupun tidak berkonflik secara terang-terangan, persaingan usaha secara tidak sehat mulai melanda kedua keluarga itu. Diam-diam mereka saling mengikuti perkembangan usaha masing-masing.

Perseteruan itu kian meruncing, bila salah satu warung terlihat ramai. Rasa curiga dan ingin tahu mulai muncul di antara mereka.

Untuk memata-matai usaha tetangganya, masing-masing menyuruh anak-anaknya main-main ke warung sebelah. Tanpa mereka duga, karena sering bertemu, terjalinlah hubungan antara Sarmijo dan Rukayah. Saat itu Sarmijo baru kelas dua SMA. Sedangkan Rukayah masih kelas tiga SMP.

Ayah Rukayah, Ajo Suardi marah besar saat mengetahui hubungan asmara anaknya itu. Apalagi yang menjadi idaman hati anaknya itu adalah dari musuh bebuyutannya, pesaingnya.

Begitu juga sebaliknya, Ibu Ngatinem, Ibu Sarmijo. Ia tidak rela berbesan dengan lawan usahanya itu.

Masing-masing berusaha mempengaruhi anaknya agar tidak melanjutkan hubungan mereka. Namun, Sarmijo dan Rukayah seakan tidak peduli lagi dengan pandangan orang tua mereka masing-masing. Tekad keduanya sudah bulat untuk mengarungi sebuah bahtera rumah tangga.

Ajo Suardi dan Ngatinem pun akhirnya pasrah. Meski separuh hati, mereka menikahkan anak mereka dalam sebuah pesta yang meriah. Sesuai dengan kesepakatan masing-masing, maka upacara pernikahan diselenggarakan sesuai dengan adat Jawa dan Padang. Begitu juga dengan makanan yang disajikan, tamu-tamu tinggal memilih, masakan Padang atau Jawa. Maklumlah, keduanya adalah pengusaha warung Tegal dan rumah makan Padang.

Setelah berumah tangga, Sarmijo dan Rukayah merintis usaha sendiri. Mereka membuka sebuah restoran "Pagal" singkatan dari Padang dan Tegal. Restoran tersebut menyajikan aneka masakan Padang dan Tegal.

Lama-kelamaan usaha Sarmijo dan Rukayah kian berkembang. Meski demikian mereka tetap mempertahankan cita rasa, budaya dan adat istiadat masing-masing. Termasuk dalam hal memberi nama anaknya, Tole Chaniago.

Dan kini Tole Chaniago sudah menyelesaikan kuliah S2 di Melbourne Australia. Saat tiba di Jakarta, ia langsung ke kantor catatan sipil untuk mengganti namanya menjadi Jon Hendrik. (arysastra)

Sabtu, 09 Agustus 2014

Sang Demonstran....


Bujang Lepok

By : Ary Sastra

Mata Ajo Kutaik seakan hendak terbudur, meloncat keluar, saat melihat kemenakan yang dia bangga-bangkan itu ternyata hanya menjual cendol di Jakarta. Seakan tak percaya, berulang kali digosok-gosok matanya. Mungkin ia salah lihat. Tapi tidak salah lagi. Penglihatannya masih normal. Lelaki yang sedang asyik menungkus cendol itu adalah kemenakannya, Bujang Lepok.

Mulut Ajo Kutaik langsung ternganga. Tubuhnya menjadi lemas seketika. Ia tidak menyangka Bujang Lepok bekerja seperti itu. Sepengetahuannya, Bujang Lepok sedang bersitungkin menyelesaikan skripsi sarjananya.

Namun kini kenyataannya? Ia menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, Bujang Lepok sedang menjual cendol.

Harapan Ajo Kutaik punah seketika. Padahal, ia telah berencana untuk menjodohkan anak gadisnya, Rapiah dengan Bujang Lepok jika  berhasil menjadi sarjana. Makanya ia rela mengirim uang buat biaya kuliah Bujang Lepok setiap bulannya.

Tapi sekarang rencana Ajo Kutaik itu buyar seketika. Tidak mungkin ia menikahkan anak gadisnya dengan Bujang Lepok yang hanya menjual cendol itu. Ke mana mukanya akan disurukkan di hadapan orang kampungnya. Apalagi, ia adalah seorang Sidi, keturunan bangsawan, kaum terhormat di kampungnya.

Sambil memperhatikan tingkah Bujang Lepok, Ajo Kutaik menyelinap di antara gerobak pedagang kaki lima yang terdapat di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta itu. Sengaja ia pura-pura minum kopi di sebuah warung, agar bisa melihat Bujang Lepok dari tempat yang agak dekat.

Ajo Kutaik tidak ingin kehadirannya diketahui oleh kemenakannya itu. Kedatangannya ke Jakarta adalah untuk berobat. Sengaja ia tidak memberitahukan kedatangannya agar tidak mengganggu konsentrasi Bujang Lepok menyelesaikan perkuliahannya.

Sambil menyeruput kopi dan memperhatikan Bujang Lepok dari kejauhan, perasaan Ajo Kutaik menjadi campur aduk. Ia tidak tahu lagi, rasa kopi yang ada di depannya. Entah pahit, entah manis. Pikirannya melayang kepada biaya kuliah Bujang Lepok yang telah ia keluarkan selama ini.

Biasanya ia tidak pernah berhitung untuk kemenakannya itu. Apalagi Bujang Lepok adalah kemenakan laki-laki satu-satunya. Selama ini Bujang Lepok juga terkenal pandai, selalu menjadi juara di sekolahnya.

Makanya, Ajo Kutaik rela habis-habisan untuk pendidikan kemenakannya itu. Maklumlah, di kampungnya, di Desa Parit Membujur orang yang bergelar sarjana bisa dihitung dengan jari.

Padahal dari segi keuangan, mereka boleh dikata mencukupi. Parak kerambil mereka berhektar-hektar. Bila butuh duit, cukup panggil tukang beruk, untuk menurunkan kerambil mereka. Apalagi hasil dari laut. Ikan yang mereka dapatkan melimpah ruah. Tidak tertampung-tampung. Malahan sampai dikirim ke Padang dan daerah lainnya.

Tidak terasa hampir tiga gelas kopi dihabiskan Ajo Kutaik. Panas terik yang membakar Kota Jakarta, semakin membuat perasaan Ajo Kutaik menggelegak. Urat di kening Ajo Kutaik sudah mulai bermunculan.

Betapa tidak, ia merasa telah ditipu oleh kemenakannya sendiri. Padahal ia telah membayangkan Bujang Lepok kelak pulang dengan membawa gelar sarjana. Dan ia akan mengadakan kenduri besar-besaran menyambut kepulangan kemenakannya itu. Seluruh sanak saudara, dan orang kampung akan diundangnya, sekaligus membicarakan perhelatan anaknya.

"Hanya gelar sarjana yang kupinta darimu Bujang. Aku tidak perlu kau bekerja atau tidak. Untuk apa kau menjual cendol di Jakarta ini. Toh di kampung kita harta sudah berlebih-lebih," bisik hati kecil Ajo Kutaik kepada dirinya sendiri.

Wajah Ajo Kutaik kian menegang. Matanya mulai merah. Gerahamnya terkatup rapat menahan emosi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti, persis di depan gerobak Bujang Lepok. Puluhan petugas Satpol PP berhamburan keluar. Para pedagang panik, berlarian menyelamatkan barang dagangannya.

Suasana menjadi gaduh. Bunyi pluit, dan teriakan para petugas Satpol PP bertalu-talu. Sementara itu Ajo Kutaik melihat kemenakannya, Bujang Lepok terperangkap dalam kepungan petugas.

 Mereka ramai-ramai mengangkat gerobak cendol Bujang Lepok ke atas sebuah mobil bak terbuka. Alat perkakas cendol Bujang Lepok berhamburan. Sejumlah kertas berterbangan dari gerobak cendol itu. Bujang Lepok segera mereka giring ke dalam sebuah mobil mirip mobil tahanan, bertuliskan Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta.

Perasaan emosi Ajo Kutaik luluh seketika. Tak sampai hati ia melihat kemenakannya diperlakukan seperti itu. Tapi apa daya, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Mata Ajo Kutaik berkaca-kaca mengiringi kepergian kemanakannya bersama mobil petugas Satpol PP itu. Perlahan dipungutnya kertas yang berhamburan dari gerobak cendol Bujang Lepok tadi. Di situ tertulis, "Strategi Manajemen Pedagang Kali Lima" Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Jayaraya, oleh Lepok Sumardi.

Tangan Ajo Lepok menggigil usai membaca lembaran kertas itu. Sakit jantung yang dideritanya kambuh seketika. Ia limbung. Dunia terasa gelap. (arysastra)

Rabu, 06 Agustus 2014

Pak Tulis

By: Ary Sastra

Tiada seorangpun yang tahu, siapa sebenarnya laki-laki separuh baya itu. Ia hadir begitu saja, sebagai penghuni kos milik Haji Nawi. Lagian, selama ini tidak ada yang peduli kepada lelaki itu.

Lelaki separuh baya itu seperti angin, kadang datang, dan pergi sesukanya. Ia hanya sebagian kecil dari potret kehidupan penghuni kos-kosan yang berjibun di ibukota Jakarta.

Tidak ada yang tahu, apa pekerjaannya, siapa namanya, dan dari mana asalnya. Yang kutahu, ibu-ibu memanggilnya dengan sebutan "Pak Tulis."

Meski tergolong pendiam, Pak Tulis cukup akrab dengan kami, para tetangganya. Setiap awal bulan, ia selalu meminjam KTP ibuku. Katanya untuk administrasi pencairan honornya.

Biasanya, setiap mengembalikan KTP ibuku, Pak Tulis tidak pernah lupa membawakan oleh-oleh, berupa makanan, seperti donat, martabak, roti bakar, dan lainnya. Aku dan dua orang adikku akan berebut mengambil oleh-oleh makanan yang dibelikan Pak Tulis. Maklumlah, kami hanya keluarga miskin, yang jarang mendapat makanan seperti itu. Ibuku hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai buruh cuci pakaian.

Selain sering membelikan makanan, Pak Tulis juga sering meminjamkan aku dan anak-anak lainnya berbagai macam buku bacaan. Lama kelamaan aku menjadi akrab dengan Pak Tulis.

Aku sering main ke kamar kos Pak Tulis hanya untuk sekadar meminjam buku buku bacaan. setiap aku datang, Pak Tulis pasti selalu asyik dengan mesin ketiknya. Entah apa yang diketiknya, akupun tak tahu.

Suatu ketika, di saat sedang asyik memilih-milih buku bacaan, Pak Tulis tiba-tiba menanyaiku. "Rif, kau punya kartu pelajarkan?"

Aku bingung dengan maksud pertanyaan tersebut. Yang jelas, aku tentunya mempunyai kartu pelajar, sebagai siswa kelas 2 SMPN 14 Jakarta. "Punya Pak. Emang buat apa Pak?" Tanyaku heran.

Pak Tulis mengulum senyum. "Mana kartu pelajarmu. Sini, biar Bapak catat dulu. Pokoknya kamu tenang saja, Saya akan besarkan kamu," teriaknya bersemangat.

Aku semakin bingung. "Lo, saya kan sudah besar Pak. Sudah kelas dua SMP," protesku.

Namun Pak Tulis kembali sibuk dengan mesin ketiknya. "Nama lengkap aku Arif Hasan kan? Ingat lo Rif, ini harus sesuai dengan kartu pelajarmu ya," tegas Pak Tulis.

Aku menerangkan namaku dengan detil. "Arif Hasan Sidik pak," jelasku.

Pak Tulis kembali mengeja namaku sambil memainkan mesin ketiknya. Akupun mulai asyik dengan bacaanku. Buku serial Wiro Sableng, menurutku lebih menarik daripada memperdebatkan soal nama dengan Pak Tulis.

Seperti biasa, setiap awal bulan, Pak Tulis akan mampir ke rumah kami untuk meminjam KTP ibuku. Namun kali ini, Pak Tulis hanya meminjam kartu pelajarku.

Akhirnya, aku tahu Pak Tulis sekarang mengganti identitas dirinya dengan memakai namaku. Pernah aku tanyakan, kenapa Pak Tulis mesti memakai identitas orang lain.

"Saya tidak punya KTP atau identitas lainnya. Makanya untuk administrasi pencairan honor tulisan saya pakai nama ibumu atau kamu," jelasnya.

"Kenapa pak Tulis tidak mengurus KTP sendiri," desakku lagi.

Wajah Pak Tulis kulihat menegang. "Aku tidak mau mengurus KTP karena keberadaanku, eksistensiku sebagai penulis tidak diakui. Coba kau lihat, mana ada di KTP itu pekerjaan sebagai penulis. Tapi kalau guru, dokter, pengacara, dan lainnya banyak. Padahal menulis itu jugakan profesi," teriak Pak Tulis dengan berapi-api.

Aku juga ikut tegang melihat ekspresi Pak Tulis. Ia melanjutkan ceritanya dengan nada yang mulai menurun.

"Dulu, saya pernah mengurus KTP waktu di kampung. Tapi saat ditanya soal pekerjaan, saya jawab penulis. Namun carik di desa saya kemudian mengisinya dengan swasta. Saya tidak mau. Saya ingin pekerjaan sebagai penulis itu di cantumkan di KTP saya. Menurut saya menjadi penulis itu juga pekerjaan yang mulia. Namun karena permintaan saya tidak diluluskan, akhirnya saya batalkan untuk membuat KTP, sampai detik ini," ungkap Pak Tulis dengan nada kecewa.

Aku menjadi terenyuh mendengar cerita Pak Tulis tersebut. Pantas saja, ia merasa bangga dipanggil Pak Tulis, dan betah tinggal puluhan tahun di Kosan Haji Nawi karena selama ini keberadaannya diakui sebagai penulis, walaupun sekadar panggilan.

"Bagiku apalah arti sebuah nama. Bagiku yang penting bisa menulis. Soal administrasi dan identitas bisa pinjam KTP orang lain," ujar Pak Tulis dengan nada getir.

Sejak kejadian itu, kami berdua semakin akrab. Seringkali Pak Tulis mengajakku berdiskusi mengenai karya-karyanya. Bahkan sampai aku kuliah, jika Pak Tulis sakit, akulah yang pergi mengambilkan honor tulisannya.

Suatu siang, sepucuk surat datang ke rumahku. Surat dari sebuah kementerian itu jelas ditujukan kepada diriku. Aku heran, karena selama ini aku tidak pernah, melamar pekerjaan, surat menyurat, atau berurusan dengan kementerian.

Dengan rasa penasaran, segera kubuka surat tersebut. Disitu tertera jelas namaku, Arif Hasan Sidik keluar sebagai pemenang lomba penulisan tingkat nasional. Aku diharapkan hadir untuk menerima penghargaan dan hadiah sebesar limapuluh juta rupiah.

Mataku langsung terbelalak mengamati nilai uang sebanyak itu. Aku ternganga tak percaya. Pikiranku langsung melayang ke Pak Tulis. "Pasti ini pekerjaanya Pak Tulis," bisik hati kecilku.

Bergegas aku ke kamar kos Pak Tulis. Namun kudapati pintu kamarnya terkunci rapat. Kugedor pintu tersebut, sambil berteriak. "Pak, Pak Tulis, Pak Tulis ada surat dari kementerian nih. Karya Bapak keluar sebagai pemenang," teriakku.

Karena tak ada jawaban, langsung saja aku tekan gagang pintunya. begitu terbuka, kulihat Pak Tulis sedang tidur dalam posisi menelengkup di atas meja kerjanya. Selembar kertas masih terpasang di rol mesin ketiknya.

Langsung saja aku sentuh pundaknya. Kuulangi memanggil namanya. Karena tidak jawaban, kembali aku goyang tubuh lelaki tua itu.

Namun aku terperanjat, ketika tubuh Pak Tulis langsung jatuh rebah ke lantai. Aku langsung berteriak histeris. Para tetanggapun berdatangan.

Tubuh Pak Tulis ternyata telah dingin dan kaku. Aku seakan tak percaya. Berkali-kali aku memanggil namanya. Semuanya menjadi gelap.

Kepergian Pak Tulis membuat aku kehilangan sahabat, orangtua, sekaligus guru. Hampir setiap hari aku selalu mengunjungi makamnya yang letaknya tidak jauh dari rumah kami. Para tetangga dan Pak RT sepakat untuk menguburkan jasad lelaki tua itu karena tidak ada sanak saudaranya yang dapat dihubungi.

Seminggu menjelang penerimaan penghargaan dan hadiah lomba penulisan tingkat nasional, sejumlah wartawan mendatangi rumahku. Mereka meminta kesediaanku untuk wawancara.

Aku bingung. Apa yang hendak aku jawab. Namun jelas di karya tersebut tertera namaku. Aku tidak bisa mengelak. Aku mencoba menjawab pertanyaan dari para wartawan itu semampuku.

Aku baru menarik nafas lega setelah para wartawan itu pergi. Namun keesokan harinya, rumahku diserbu para tetangga. Mereka membawa koran dan majalah yang memajang wajahku. "Wah Mas Arif hebat. Juara menulis tingkat nasional. Hadiahnya pasti gede tuh. Tidak sia-sia selama ini Mas Arif dekat dengan Pak Tulis," puji Ratna, tetanggaku.

Deg, jantungku seakan berhenti, ketika ia menyebut nama Pak Tulis. Bagaimanapun aku tidak bisa menolak, tulisan tersebut adalah karya Pak Tulis. Hati kecilku berontak. Aku harus berani mengatakan bahwa itu bukan karyaku. Aku harus mengadakan komprensi pers.

Ketika semua wartawan sudah hadir, dengan tenang aku katakan bahwa tulisan tersebut bukan karyaku, tapi adalah karya Pak Tulis. Tapi tidak ada satupun dari wartawan tersebut yang percaya dengan keteranganku.

"Ah Mas Arif yang benar aja. Buktinya selama ini banyak tulisan Mas Arif yang terbit kok. Jangan aneh-anehlah Mas," celetuk seorang wartawan.

Aku kembali meyakinkan para wartawan tersebut. Tapi mereka tetap tidak percaya. "Biasalah, tingkah penulis itu memang aneh-aneh," ujar mereka tertawa.

Keesokan harinya, foto dan profil lengkapku kembali bermunculan di berbagai media cetak. Selain itu para kritikus juga mulai membicarakan tentang diriku. Aku menjadi semakin terkenal. (arysastra)

Sabtu, 26 Juli 2014

Balek Kampong

oleh Ary Sastra

Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Hampir semua rekan kerjaku sudah bersiap-siap mudik, berlebaran bersama sanak  keluarganya di kampung halaman.

"Eh Leman, kamu tidak pulang kampung? Kalau tidak, ayo berlebaran di Jawa aja, di kampung saya," ujar Parto, rekan kerjaku sesama mualim di Kapal Kargo Tanjung Sauh.

Aku hanya tersenyum. Menolak secara halus tawaran Parto. "Lho kok senyam-senyum wae. Sampeyan gimana sih. Siapa tau di sana ada cewek cantik yang kecantol sampeyan," ujarnya sambil menepuk-nepuk pundakku.

"Makasih bos. Sebetulnya di sini adalah kampung saya. Jadi saya tidak perlu repot-repot seperti sampeyan, kemas-kemas barang. Lagian kapal kita cukup lama naik dok. Ada waktu sebulan buat kita untuk pulang kampung," tukasku tertawa renyah.

"Oh ternyata sampeyan orang sini toh. Orang Tanjungpinang rupanya. Baiklah kawan, kalau gitu saya pamit dulu. Oh ya karena sampeyan tetap di sini, tolong liat-liat juga kapal kita selama naik dok," pintanya sambil menggenggam erat tanganku.

Begitulah seterusnya. Satu persatu rekan kerjaku berpamitan. Tinggallah aku sendiri, sebagai penghuni mess PT Alang Samudera ini.

Meski sendiri, sebetulnya aku bersyukur. Sebab, kalau masih ada teman yang tinggal di mess, tentulah aku harus berbasa-basi mengajaknya berlebaran ke kampungku, ke rumahku, berjumpa dengan sanak keluargaku.

Nah kalau ia bersedia, aku pasti kelabakan. Aku akan kebingungan sendiri menunjukkan kampungku.

"Oh tidak!! bisik hati kecilku. Bukan berarti aku pelit, atau tertutup. Sekali lagi tidak. Tetapi kata-kata "Kampung" bagiku tidak sama dengan yang mereka bayangkan. Kampungku, tidak ada pohon, jalanan, lapangan sepakbola, sawah, ternak, rumah penduduk, bahkan tiang listrik sekalipun.

Aneh memang. Tapi begitulah kampungku, hanya laut. Kami sudah terbiasa hidup di atas kajang, perahu kecil. Orang-orang biasa menjuluki kami sebagai orang sampan, atau orang laut.

Dulu, sewaktu masih bekerja sebagai kuli di Batam, aku pernah mengajak teman ke kampungku. Sengaja aku sewa sebuah perahu untuk mengitari pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Pulau Bintan. Hampir seharian kami berkeliling dan menghampiri setiap rombongan perahu kecil untuk menemukan kerabatku.

"Man, sebenarnya kita ke mana sih? Masih jauh gak kampungmu. Perasaan dari tadi kita putar-putar aja? Tanya Sutar kepadaku penuh selidik.

"Sabar kawan, sebentar lagi kita sampai," bisikku menenangkan Sutar. Sebenarnya aku juga bingung bagaimana cara menerangkan kondisi kampungku yang sebenarnya kepada Sutar.

Dalam hatiku, Sutar pasti kaget saat melihat kampungku, rumahku, apalagi kehidupan kami sebagai orang laut yang tinggal bertahun-tahun di atas perahu.

Dugaanku ternyata tidak meleset. Begitu melihat, perahu Kajang milik bapakku, aku segera memberitahukan Sutar. "Kita dah sampai Tar. Inilah kampungku. Nah yang itu rumahku," ujarku sambil menunjuk serombongan perahu kecil, di sekitar Pulau Mantang, Kabupaten Bintan.

"Ah yang benar saja Man. Itu rumahmu? Ini kampungmu? Tanya Sutar dengan nada tak percaya.

"Iya. Itu rumah dan kampungku. Ya laut inilah. Kami tidak perlu rumah yang permanen. Tidak butuh sertifikat tanah, cukup dengan sebuah perahu kecil ini saja. Selamat datang di kampungku Sutar. Silakan naik ke rumahku kawan," ujarku sambil merapatkan perahu yang kutumpangi ke perahu keluargaku.

Sutar kelihatan ragu. Matanya penuh selidik menatapku. Aku kembali tersenyum seakan meyakinkannya.

Sutar akhirnya berdiri melompati perahu keluargaku. Tubuhnya sempoyongan, saat melangkah karena perahu yang kami tumpangi sedikit oleng dialun gelombang.

"Hati-hati kawan. Tak perlu buru-buru. Melangkah saja dengan tenang. Kalau jatuh, pasti juga ke laut," selorohku kepadanya.

Sutar memmelototkan matanya ke arahku. Wajahnya terlihat cemas. "Engkau jangan bercanda Man. Aku tak pandai berenang nih," tukasnya.

Sutar baru terlihat tenang, setelah berhasil memasuki perahu kajang milik keluargaku. Bapak dan Mamakku menyambutnya dengan senyum. Tiga orang adikku, yang masih kecil-kecil terlihat asyik menonton televisi sambil tidur-tiduran.

"Aih, ade kemajuan rupenye. Dah ade tipi di kajang nih," ujarku sambil melirik antene tipi yang menjulang sekitar lima meter di atas atap kajang.

"Aoklah. Tipi tuh hadiah dari toke Aleng. Hadiah buat bapak engkau karena telah menyembuhkan anaknya," terang Mak sambil membuatkan teh panas untuk kami berdua.

"Emang anaknye sakit ape Mak? Tanyaku dengan penasaran.

"Biasalah Man, anaknye kesampok mambang laut kat kampong bugis sane," jelas Mak sambil menghidangkan dua gelas teh ke hadapan kami.

Sementara itu Sutar asyik memperhatikan keadaan di dalam perahu kajang keluargaku. Matanya menelusuri kabel yang terdapat di tipi. "Oh tipinya pakai aki rupanya Man," ujarnya sambil tersenyum padaku.

Leher Sutar memanjang seakan melongok ke arah dapur yang terdapat di belakang kajang. "Masak pakai kayu ya Man? Tanya Sutar kepadaku.

"Ya. pakai kayu arang," ujarku singkat.

Percakapan kami terhenti, karena bunyi telepon genggam yang terletak di atas tipi. Aku hanya terpana, memperhatikan bapakku menjawab telepon. "Luar biasa, sekarang orang laut sudah banyak kemajuan," batinku.

"Oh ya toke, sekarang sedang musim angin utara, jadi agaK susah nyarinya. Nantilah, kalau ade saye akan kasih tau toke," jawab Bapakku sambil menutup teleponnya.

"Emang kat laut sini ada sinyal Pak? Tanyaku kepada bapak.

"Tergantung. Kadeng ade, kadang tidak. Tergantung angin juga kayaknye sinyal telepon tuh," jawab Bapak dengan dingin.

Aku tahu, Bapak masih marah kepadaku. Buktinya, sejak kedatanganku, tidak sedikitpun ia tersenyum kepadaku dan menanyakan keadaanku. Padahal aku sudah pergi merantau ke daratan lebih dari tiga tahun. Tidak adakah sedikit rindu atau kasih sayang dari seorang bapak kepada anaknya?

Tapi bapakku adalah seorang yang keras. Seorang pelaut yang tidak mudah menyerah kepada dalamnya laut dan tingginya gelombang.

Menurut Bapak, aku tidak lagi setia kepada nilai-nilai dan ajaran nenek moyang kami. "Kite ni orang laut. Ya harus hidup di lautlah," begitu nasihat bapak saat aku berniat merantau ke Batam.

Bagi kami, orang laut, daratan adalah tempat yang penuh dengan kotoran. "Engkau tau tak, berape banyak sampah dan kotoran yang berasal dari daratan dan dibuang kat laut ni. Sampai kat laut yang asin ni, semuenye jadi jadi hancur," terang bapak berapi-api kepadaku.

Menurut kebiasaan, orang laut turun ke darat hanya untuk mendapatkan kebutuhan makanan dan air bersih. Selain itu juga untuk menguburkan kalau ada anggota keluarga atau kerabat kami yang meninggal.

Kepergianku untuk merantau ke daratan telah membuat bapak tersinggung. Apalagi ia merupakan seorang batin, orang yang dituakan di rombongannya.

Orang suku laut, memang terbiasa hidup berpindah-pindah secara berombongan. Satu rombongan bisa terdiri dari tujuh sampai lima belas perahu. Tentunya bapak akan merasa malu kepada anggota rombongannya.

Dulu memang pernah orang laut ditempatkan di sejumlah perkampungan. Pemerintah malah menyediakan rumah di sekitar pesisir pantai untuk ditempati.

Kami, orang laut dianggap sebagai suku yang termarginalkan. Untuk itu pemerintah perlu melakukan pembinaan dengan cara melokasir orang laut pada tempat-tempat tertentu.

Sejak saat itu, mulailah orang laut hidup berdampingan dengan orang darat. Termasuk aku tentunya, bisa bersekolah di Pulau Ngenang.

Namun upaya pemerintah tersebut tidak bertahan lama. Kami masih menggantungkan hidup dari laut. Sementara untuk bersaing dengan orang daratan, di bidang perdagangan, jasa, atau pemerintahan, jelas kami tidak mempunyai kemampuan.

Bila musim utara, orang laut terpaksa bertandang, mencari ikan ke tempat-tempat yang jauh. Mereka biasanya membawa serta istri dan anak-anaknya. Dan hal tersebut berlangsung lama, hingga berbulan-bulan.

Akibatnya, aku dan anak-anak suku laut lainnya harus putus sekolah. Kebanyakan dari kami hanya sebatas bisa menulis, berhitung dan membaca saja.

"Sudahlah. Engkaukan sudah bisa menulis dan membaca. Untuk ape susah-susah. Laut telah menyediakan segalenye," nasihat bapakku saat itu.

Tiba-tiba lamunanku buyar saat Sutar mencolek pinganggku. "Engkau memang keterlaluan Man. Sampai hati engkau biarkan orangtua dan adik-adikmu hidup di laut seperti ini," bisiknya ke telingaku.

Perkataan Sutar itu sampai saat ini masih tergiang di telingaku. Apalagi setelah mendengar kabar, kajang milik bapakku hilang ditelan gelombang di sekitar berakit enam bulan yang lalu.

Rinduku menggumpal bak gelombang menerjang dadaku. "Mak aku nak balek kampong, kat laut sane," teriakku memecah keheningan malam.(arysastra)


Kamis, 26 Juni 2014

Lukisan Tara (Sebuah Skenario)



01. EXT - Halaman Rumah - Sore Hari
      Cast : Tara, Tirza, Mama, Papa dan Tukang Kebun

Seorang bocah perempuan sedang asyik menyemprotkan air ke arah tukang kebunnya sambil tertawa-tawa. Sementara itu tukang kebun berusaha menghindar dan mencegah tindakan bocah tersebut.

Tukang Kebun : Non Tara, jangan.... Mamang basah nih..., Non Tara jangan nakal ya...
Tara                 : He..he.. Gak apa-apa Mang, Mamang kan belum mandi. Sini Tara mandiin..
Tukang Kebun : Ah Non..jangan Non. Mamang udah mandi kok. Lagian Non gak usah sibuk
  sibuk... udah sini selangnya biar Mamang aja yang nyiram bunganya.

Sebuah mobil sedang memasuki halaman. Papa keluar dari mobilnya dengan wajah cemberut
melihat ulah anaknya. Ia langsung menghardik Tara. Suasana berubah seketika. Tara dan Tukang Kebun terdiam kecut.

Papa            : Tara!!! apa-apaan kamu. Ngapaian kamu semprot-semprot Mamang Udin.. Udah 
 ayo masuk sana...
Tara            : Tara cuma main-main aja kok Pa...
Papa            : Main-main? Apa kamu kira itu buat main-main ya...ayo cepat masuk...
Tara            : Ah Papa...Tara kan cuma nyemprotkan air doang.... Tara gak mau  masuk..nanti
         aja... papa masuk aja  duluan...

Sang Papa semakin emosi. Ia berteriak memanggil manggil istrinya

Papa            : Tania!! Tania!!! Ngapaian kamu di dalam. ..Ayo cepat keluar..

Sang istri buru-buru keluar

Mama              : Ada apaan sih pa?...kok pakai teriak-teriak segala
Papa                : Lihat kelakuan anak mau tuh. Kamu ngapain aja sih. Anak kok
              gak diurus, dibiarin main air kayak gitu..
Mama              : Eh Papa tau gak...walau di rumah mama juga sibuk..
Papa                : Huuhh..sibuk apaan!!! cuma ngurus rumah dan anak aja kok sibuk
Mama              : Eh..eh...Papa belum tau ya...toko belanja online Mama kan udah jalan.
Papa                : Ah sudah..sudah jangan cari alasan. Pokoknya Mama urus tuh Tara !!! (sambil
              berlalu memasuki rumahnya)

Sang Mama karena merasa kesal menghampiri anaknya

Mama                         : Hei Tara, kamu tuh nakal banget ya!!! kan sudah Mama bilang jangan  
 main-main air!!! Lagian Mang Udin kok Tara dibiarin main-main air sih...
Tukang Kebun             : Udah Nyonya, Non Tara udah saya larang. Tapi Non Taranya aja yang 
 gak  mau dengerin...(dengan wajah ketakutan)

Sang Mama dengan emosi memukul dan menyeret Tara masuk ke dalam rumah

Mama            : Huuuh..dasar anak bandel. Sini kamu...ayo cepat masuk. Biar Mama kurung kamu
            di kamar mandi. Biar tau rasa kamu ya...

Cut To

02.EXT - Pagar Rumah - Sore Hari
      Cast : Tirza, Tara, Mang Udin dan Mama

Pada saat yang bersamaan, seorang gadis baru pulang sekolah terpaku di depan pagar rumah menyaksikan adiknya dipukuli oleh Mamanya. Ia segera berlari merangkul adiknya

Tirza            : Mama...mama!!! jangan!!! Jangan pukuli Tara lagi. Kasihan Tara Ma, Tara kan
         masih kecil...
Mama         : Tirza!!! kamu juga. Selalu membela Tara. Lihat adikmu jadi nakal, karena selalu 
         dibela  (sambil berlalu masuk ke dalam rumah)

Fade Out

03. INT – Kamar – Malam Hari
       Cast : Tirza dan Tara

Tirza sedang tidur-tiduran membuat PR. Sedangkan Tiara juga asyik membuat sebuah lukisan di samping kakaknya

Tiara    : Kak, lihat deh gambarku bagus nggak?

Tiara memperlihatkan gambarnya berupa kupu-kupu yang belum selesai

Tirza    :  Hmm..ya bagus…(menoleh sesaat)  nanti deh soal gambarnya. Kakak bikin PR dulu ya…

Tiara    : Ah..kakak bikin PR terus. Tiap hari bikin PR. Apa nggak capek ya kak
Tirza    : Ya capeklah…tapi kalau mau pintar harus begitu. Nanti Tiara kalau udah sebesar kakak
  pasti banyak juga PR nya…
Tiara    : Tiara gak maulah..ngapaian capek-capek bikin PR. Tiara lebih suka bikin gambar. Liat
  nih..baguskan kak? (kembali memperlihatkan gambarnya)

Tirza hanya diam. Asyik memikirkan PR nya

Tiara    : (bangkit berdiri) Kak Tiara haus…

Tirza tidak merespon

Tiara    : Huh..percuma ngomong ama Kak Tirza. Mending Tiara ambil minum sendiri

Tiara segera keluar dari kamar. Sementara Tirza masih asyik dengan PR nya.

Cut To

04. INT – Dapur – Malam Hari
      Cast : Mama dan Tiara

Terdengar suara gelas pecah. Tiara berdiri dengan ketakutan. Mama datang sambil marah-marah

Mama : Aduh Tiara!! Itu gelas porselen yang Mama beli dari Jepang. Kenapa kamu pecahin..
Tiara    : Tiara nggak sengaja Ma..
Mama : Kamu memang keterlaluan ya. Kemarin vas bunga Mama yang dari Tiongkok kamu
 pecahin. Sekarang gelas. Besok apalagi ha!!! Pusing deh mama menghadapi kamu…

Cut To

05. INT – Kamar – Malam hari
       Cast : Tirza

Tirza sedang asyik membuat PR kaget mendengar suara gelas pecah dan suara keributan di dapur. Ia segera berdiri dan keluar dari kamarnya.

Cut To

06. INT – Dapur – Malam hari
       Cast : Tirza, Tara dan Mama

Tirza segera menghampiri Mama dan adiknya

Tirza    : Sudahlah Ma. Lagian Tara kan nggak sengaja.
Mama : Huh enak saja kamu. Itukan kan gelas mahal. Mama beli di Jepang…
Tirza    : Ah Mama..nantikan bisa dibeli lagi…

Tirza menghampiri adiknya

Tirza    : Kamu nggak apa-apa dek? Liat tanganmu ada yang luka nggak?
Tara     : Tara nggak apa-apa Kak. Tara memang nggak sengaja Kak. Gelasnya licin, jadi jatuh..
Mama : Tidak ada alasan!! Yang jelas kamu sudah memecahkan gelas Mama. Kamu harus Mama hukum.  
             Kamu harus dikurung di kamar mandi. Ayo sini..

Mama menyeret Tara masuk ke kamar mandi. Ia kemudian mengunci dari luar

Tara     : Ampun Ma. Tara nggak mau dikurung Ma. Ampun Ma..Tara memang nggak sengaja Ma
Mama : Jangan cari alasan ya..Tidak ada ampun-ampun. Kamu memang harus dihukum. Biar j
 jera kamu. Capek Mama kalau kelakuanmu begini terus. Lama-lama seluruh barang di
 rumah ini habis kamu pecahin ha!!!

Tirza mencoba menghalangi Mamanya

Tirza    : Sudahlah Ma..Inikan sudah malam.
Mama : Tirza !! kamu jangan ikut campur. Ayo cepat kamu masuk kamar… ini bukan urusanmu.

Cut  to

07. INT – Kamar Mandi – Malam Hari
       Cast : Tara

Tara menangis sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Ia berteriak-teriak minta keluar

Tara     : Ma buka pintunya!! Tara janji nggak nakal lagi. Ma buka pintunya. Ampunkan Tara Ma.
              Tara tak sengaja Ma… Kak..kak Tirza tolong Tara kak. Tara takut kak..

Cut To

08. INT – Kamar – Malam Hari
       Cast : Tirza

Tirza hanya terenyuh mendengar suara teriakan adiknya. Perlahan-lahan ia mengambil lukisan adiknya yang terbengkalai. Di situ terpampang lukisan mereka sekeluarga sedang berangkulan.

Cut To

09. INT – Kamar – Malam Hari
      Cast : Papa dan Mama

Papa dan Mama sedang bertengkar. Mereka saling menyalahkan akibat kenakalan Tara

Papa    : Ma..mengajar anak itu tidak selalu dengan kekerasan
Mama : Ah Papa jangan sok mengajarin. Coba Papa yang di rumah.. pasti Papa juga pusing
             melihat ulah Tiara
Papa    : Ya tapi Tara itukan masih kecil. Wajar aja dia nakal. Dia itu belum ngerti apa-apa Ma..
Mama : Ah sudahlah Pa. Tak ada guna kita diskusi. Sekarang biar aja dia dihukum. Mama mau  
             tidur dulu. Mama udah ngantuk…

Fade In

10. INT – Kamar – Pagi Hari
      Cast : Papa, Mama dan Tirza

Papa dan Mama sedang tidur nyenyak. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dan teriakan Tirza

Tirza    : Ma..Ma..bangun Ma. Tara ke mana Ma? Tara udah nggak ada di kamar mandi. Tara ke
             mana Ma? Tara mungkin kabur Ma…(sambil menangis)

Papa dan Mama segera bangkit dari tempat tidur. Mereka bergegas menuju kamar mandi yang sudah kosong. Sementara itu jendela yang ada di kamar mandi sudah terbuka. Di situ terlihat jejak kaki Tara.

Papa    : Ayo cepat cari keluar. Mungkin dia masih di sekitar sini…(Papa, Mama dan Tirza bergegas 
              keluar rumah. Mereka terlihat panik)

Cut To

11. EXT – Jalanan – Siang Hari
       Cast : Papa, Mama dan Tirza

Papa, Mama dan Tirza menyusuri jalanan untuk mencari Tara. Tak lupa mereka bertanya ke sejumlah tetangga. Mereka juga melaporkan kepergian Tara kepada polisi.

Fade Out

12. INT – Kamar – Malam Hari
       Cast : Tirza

Tirza sedang termenung memikirkan adiknya. Lukisan Tara ditempel di dinding kamarnya.Sayup-sayup terdengar suara pertengkaran papa dan mamanya. Mereka saling menyalahkan sehingga Tara kabur dari rumah.

Cut to

13. INT – Kamar – Malam Hari

Papa dan Mama sedang bertengkar hebat. Mereka sepertinya sudah putus asa mencari Tara

Mama : Pa..ke mana lagi kita harus mencari Tara. Seluruh pelosok kota ini sudah kita telusuri, 
             tapi Tara tak juga bertemu.
Papa    : Huh..jangan pura-pura sedih. Puaskan Mama, Tara kabur. Kalau  tidak Mama kurung 
              anak itu di kamar mandi, mungkin Tara tak akan kabur…
Mama : Ya Mama menyesal. Tapi Papa jangan menyalahkan Mama terus..
Papa    : Sesal kemudian tidak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Tara sudah pergi….dan itu akibat 
              ulah Mama
Mama : Pa..jangan menyalahkan Mama terus. Papa selaku kepala keluarga juga harus
             bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak kita
Papa    : Sudah!! Jangan melempar-lempar kesalahan. Papa juga nggak tahan dengan ulah
              Mama. Mungkin Papa juga akan pergi.. sampai Tara kembali lagi ke rumah ini…(sambil
              Berlalu dan membanting pintu kamar)

Cut To

14. INT – Kamar – Malam Hari
      Cast : Tirza

Tirza hanya mampu berurai air mata mendengar pertengkaran Papa dan Mamanya. Ia melihat kepergian Papanya dari tirai jendela kamarnya.

Dissolve To

15. EXT – Tempat Parkir – Siang Hari
      Cast : Tara, Ibu Siska dan Bapak Rendi

Ibu Siska dan Pak Rendi yang hendak memasuki mobilnya terkejut mendapati Tara sedang menangis di belakang mobilnya. Mereka segera menghampiri Tara.

Ibu Siska          : Eh…sayang..kamu kenapa? Mengapa kamu menangis?
Pak Rendi        : Mungkin dia lapar Bu. Coba kasih makanan
Ibu Siska          : Kamu lapar ya? Ini Ibu ada kue. Ayo makan (mengeluarkan kue dari kantong
                          bawaannya)

Tara masih menangis. Ia hanya mengeleng saat diberikan kue. Ibu Siska dan Pak Rendi sakling berpandangan. Mereka terlihat bingung

Pak Rendi        : Mungkin ia nyasar Bu. Tak tau jalan pulang
Ibu Siska          : Oh kamu nyasar ya? Rumah kamu di mana? Jangan khawatir Ibu dan Bapak
                          akan antarkan kamu.. ayo siapa nama kamu (mengusap-usap rambut Tara)
Tara                 : Tara nggak mau pulang. Biar Tara di sini saja…
Ibu Siska          : Oh nama kamu Tara ya? Lalu kalau Tara nggak mau pulang ntar tidurnya di
                           mana? Mandinya di mana? Kalau malam di sini banyak nyamuk…

Ibu Siska dan Pak Rendi saling berpandangan. Mereka berunding agak jauh dari Tara, dan kemudian menghampirinya lagi

Ibu Siska          : Gini aja..gimana kalau Tara tidur di rumah Ibu aja. Di rumah Ibu banyak mainan
Pak Rendi        : Iya Tara..di rumah Bapak kamu bisa main apa aja…

Tara menghentikan tangisnya. Ia memandang kedua orang itu. Tara tersenyum dan mengangguk senang

Tara                 : Tapi Tara nanti jangan dimarahin ya. Apalagi kalau ada yang pecah. Mama di   
                           rumah sampai mengurung Tara di kamar mandi karena mecahin gelas…
Ibu Siska          : Tidak sayang…Ibu tidak akan marahin kamu. Ibu janji..ayo kita ke rumah ibu
                           (sambil membimbing Tara ke mobil mereka)


Dissolve To

16. INT – Kamar – Malam Hari
       Cast : Tirza

Tirza sudah semakin dewasa. Namun ia tidak pernah berhenti memikirkan nasib adiknya yang kabur dari rumah. Setiap saat ia selalu memandang lukisan Tara.

Fade Out

17. EXT – Jembatan Penyeberangan – Siang Hari
       Cast : Tirza dan Anak Jalanan

Tirza sedang bertanya kepada anak-anak jalanan sambil memperlihatkan foto Tara

Cut To

18. EXT – Koridor Kampus –Siang Hari
       Cast : Tirza dan Alex

Tirza sedang melamun di koridor kampus. Alex menghampiri Tirza.

Alex     : Tara…loe kok melamun terus. Mikirin Tara lagi ya?
Tirza    : Hmm..gue gak bisa ngebayangin gimane nasib Tara Lex. Di mane dia sekarang..Ah Tara    
              adik gue yang malang..
Alex     : Ya..tapi loe juga harus mikirin kuliah loe. Gimana skripsi loe..udah selesai?
Tirza    : Tenang aja Lex, soal skripsi udah disetujui pembimbing. Mungkin minggu depan gue
              ujian. Gue masih menghubungi tim pengujinya nih…doakan gue lulus ya Lex


Fade In

19. EXT – Pusat Perbelanjaan – Sore Hari
      Cast : Tirza dan sejumlah anak-anak

Tirza sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia berdiri di sebuah tempat permainan anak-anak. Tirza asyik memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Ia tersenyum membayangkan adiknya, Tara.

Dissolve To

20. EXT – Ruang Sidang Kampus- Siang Hari
       Cast : Tirza dan Lima orang tim penguji

Tirza sedang menghadapi tim pengujinya. Ia berdebar-debar mendengarkan keputusan tim penguji tentang skripsinya.

Penguji            : Baiklah saudari Tirza Mulyana. Berdasarkan hasil keputusan tim penguji atas
             skripsi yang telah saudari tulis dan saudari presentasikan di hadapan kami, 
             maka kami tim penguji memutuskan, saudari Tirza Mulyana lulus dan layak
             menyandang predikat sarjana.
Tirza                : (tersenyum bahagia dan langsung berdiri menyalami tim penguji) Terima kasih
              pak..terima kasih bu..terima kasih pak…

Cut To

21. EXT – Luar Ruang Sidang Kampus – Siang hari
       Cast : Tirza, Alex, Leni dan Ningrum

Teman-teman Tirza berdebar-debar menunggu hasil ujian skripsi Tirza. Mereka menunggu di depan pintu. Saat Tirza keluar mereka segera mengerubutinya.

Alex                 : Gimana hasil siding loe Za?
Leni                 : Ya Za? Gimana keputusan juri?
Tirza                : (sambil tersenyum dan mengangkat tangan) Gue lulus!!!! Terima kasih ya
                          Tuhan….terima kasih atas rahmat dan karuniamu…
Ningrum          : Yee..selamat..selamat ya Za? (sambil memeluk Tirza)

Dissolve To
22. INT – Teras Rumah – Siang Hari
      Cast : Tirza dan Mama

Tirza kembali ke rumahnya. Ia membawa kopor dan mendapati Mamanya sedang duduk menunggu di teras rumah.

Tirza    : Mama.. (sambil memeluk mamanya) Tirza pulang Ma…
Mama : Maafkan Mama ya Nak (sambil membelai rambut Tirza). Mama tak bisa hadir pada saat 
             upacara wisuda kamu……
Tirza    : Sudahlah Ma..tak apa-apa. Tak usah Mama pikirkan lagi… Sekarang Tirza sudah dapat
             panggilan kerja Ma. Doakan Tirza ya Ma…

Fade Out

23. INT – Kamar – Malam Hari
       Cast : Tirza

Tirza sedang termenung di kamarnya. Ia terpaku memandang lukisan adiknya yang masih tertempel di dinding kamarnya

Fade In

24. INT – Ruang Kepala Sekolah – Siang hari
       Cast : Tirza dan Kepala Sekolah

Tirza mengetuk ruang kepala sekolah. Kepala sekolah ternyata sudah menunggu kedatangannya

Kepsek : Ibu Tirza ya? Selamat datang di sekolah kami. Saya harap ibu betah di sekolah ini
Tirza    : Ya bu, saya juga berharap agar ibu sudi memberikan bimbingan kepada saya.
              Maklumlah Bu, saya belum ada pengalaman…
Kepsek : Oh tentu Ibu Tirza..kita semua sama-sama belajar kok. Mari kita berkeliling sekolah
               dulu…(mereka berdua menyusuri koridor sekolah)

Cut To

25. EXT – Koridor Sekolah – Siang hari
                 Cast : Tirza, Kepala Sekolah, Ibu Mul dan Murid-murid

Tirza dan Kepala Sekolah sedang menyusuri koridor sekolah. Kepala Sekolah sibuk memperkenalkan ruang dan lokasi sekolah. Termasuk juga memperkenalkan guru yang kebetulan berpapasan dengan mereka berdua

Kepsek : Nah ibu Tirza, yang ini merupakan ruang UKS. Kalau yang di sebelah sana merupakan ruang    
               guru. Setiap pagi kita melaksanakan meeting di sana
Tirza      : Kalau kelas satu di sebelah mana Bu?
Kepsek : Kalau kelas satu di gedung A Bu Tirza. Nanti kita akan sampai ke sana
Tirza      : Wah sekolahnya luas juga ya Bu
Kepsek : Yah…semua ini termasuk bantuan dari alumni kita bu. Alumni kita sangat peduli
                dengan kelangsungan sekolah ini.

Mereka berpapasan dengan Ibu Mul. Kepala Sekolah langsung memperkenalkan Ibu Mul kepada Tirza

Kepsek : Oh ya..Ibu Tirza perkenalkan ini Ibu Mul

Tirza dan Ibu Mul langsung bersalaman

Kepsek : Ibu Mul, bagaimana dengan persiapan acara malam amal kita?
Ibu Mul: Sampai sejauh ini lancar Bu? Mungkin selain acara hiburan kita juga akan melakukan
              lelang lukisan anak-anak kita
Kepsek : Bagus..bagus saya setuju. Tapi jangan lupa karya-karyanya diseleksi dulu. Sebelum
              dilelang harus dipigura dan dipajang ya!!!
Ibu Mul: Baik Bu…

Cut To

26. EXT – Tempat Pemajangan Lukisan – Siang Hari
       Cast : Tirza dan Kepala Sekolah

Ibu Mul segera berlalu. Tirza dan Kepala sekolah kembali melanjutkan keliling sekolah. Mereka sampai ke sebuah tempat pemajangan lukisan murid-murid. Mata Tirza tertuju kepada sebuah lukisan yang terpajang di situ

Kepsek : Ini merupakan lukisan yang akan kita lelang. Nanti dananya akan kita sumbangkan
               untuk biaya operasi orangtua anak yang membuat lukisan ini
Tirza      : Emang orangtuanya kenapa Bu?
Kepsek : Orangtuanya sakit kanker. Kasih anak ini. Padahal dia merupakan anak yang pintar.
               Nilainya selalu tinggi
Tirza      : Siapa namanya Bu? Dan sekarang dia sudah kelas berapa?
Kepsek : Namanya Tiara. Sekarang sudah kelas enam. Sebentar lagi dia lulus. Itulah yang saya
               khawatirkan. Selama bersekolah di sini dia mendapat keringanan, bebas biaya uang
               sekolah. Tapi kalau nanti dia tidak bersekolah di sini lagi, bagaimana dengan biayanya?

Fade Out


27. INT – Ruang Makan – Malam Hari
                 Cast : Tirza dan Mama

Mama sedang duduk di ruang makan. Tirza masuk sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala-nyala.

Mama : Eh Tirza, emang siapa yang ulang tahun? Kamu kan bulan april?
Tirza    : Masak sih mama lupa…hari ini adalah ulang tahun Tara Ma…
Mama : Astaga…Mama lupa (termenung) maafkan mama nak..mama sampai tak ingat hari
             ulang tahunmu. Tara..kamu di mana nak, mama  rindu. Ya Tuhan, selamatkanlah
             anakku, berilah dia kesehatan, berilah dia kekuatan..
Tirza    : Ayo Ma..mari kita tiup lilinnya, semoga Tara sehat, panjang umur dan diberi
              kebahagiaan…

Mereka berdua kemudian meniup kue ulang tahun tersebut

Tirza    : Oh ya Ma, besok malam ada acara malam amal di sekolah Tirza. Ada sebuah lukisan
              yang mau dilelang, mirip dengan lukisan Tara Ma. Dananya mau diserahkan untuk
              membantu biaya operasi orangtua anak itu.
Mama : Sungguh mulia hati anak tersebut. Pasti orangtuanya bangga memiliki anak sebaik itu.
             Siapa nama anak itu?
Tirza    :  Namanya Tiara? Mirip dengan Tara kan? Anak kelas enam. Tara kalau sekolah pasti
              juga sudah kelas enam
Mama : Emang kamu sudah berjumpa dengan anak yang bernama Tiara itu?
Tirza    : Belum sih Ma. Kenapa? Mama penasaran ya? Mama kalau pingin tau datang aja pada
             saat acara malam amal bareng Tirza
Mama : Kok perasaan Mama mengatakan Tiara itu adalah Tara. Adikmu yang hilang enam
             tahun yang lalu
Tirza    : Ya Ma. Perasaan Tirza juga kayak gitu, terutama saat melihat lukisannya. Nah gimana
              kalau kita beli aja lukisannya? Hitung-hitung buat membantu biaya operasi
              orangtuanya itu ma…
Mama : Ide yang bagus. Mama setuju. Oh ya acaranya besok jam berapa?
Tirza    : Jam tujuh malam ma..
Mama : Baik kalau begitu Mama akan datang…

Fade In

28. INT – Aula Sekolah – Malam Hari
       Cast : Tirza, Mama, Papa, Tara, Orangtua Tara, MC, Tamu, guru dan murid-murid

Suasana hiruk pikuk di aula sekolah. MC mulai membuka acara pelelangan lukisan

MC      : Hadirin yang berbahagia, sampailah kita pada acara pelelangan lukisan karya murid-
              murid sekolah kita ini. Lukisan pertama yang akan dilelang berjudul “Keluargaku” karya
             Tiara. Dana dari penjualan lukisan ini akan kita serahkan untuk biaya pengobatan
             orangtua Tiara. Namun sebelum kita buka penawaran pertama adad baiknya kita
             persilakan Tiara bersama orangtuanya tampil ke panggung menceritakan kesulitan
             mereka

Tiara tampil ke panggung sambil mendorong ibunya dengan kursi roda

Ibu Tiara          : Selamat malam Bapak/Ibu dan hadirin yang budiman. Saya sangat berterima
                          kasih atas upaya yang telah bapak ibu berikan, membantu saya untuk    
                          mendapatkan biaya pengobatan. Terus terang saja, Tiara ini bukan anak
                          kandung saya. Tiara ini saya temukan sekitar enam tahun yang lalu di sebuah
                          tempat perbelanjaan. Karena kami tidak mempunyai anak, maka kami
                          jadikanlah Tiara ini angkat kami. Meski dia ini angkat, tapi cinta kasih kami
                          kepadanya melebihi segalanya. Jujur, kami takut kehilangan dia. Karena itulah
                          namanya yang awalnya Tara, kami ganti menjadi Tiara. Kami tak ingin Tiara
                          diambil oleh orangtua kandungnya lagi. Biarlah Tiara bersama kami terus. Tapi
                          mengingat kondisi kesehatan saya saat ini, terlebih lagi sejak Bapaknya 
                          meninggal, demi masa depan Tiara, saya ikhlas dan rela Tiara kembali ke
                          orangtuanya. Saya bangga dan puas walau Tiara hanya sesaat bersama saya.
                          Terima kasih anakku. Terima kasih atas budi baik yang telah berikan kepada   
                          ibumu ini (sambil membelai kepala Tiara)

MC                  : Baik, Bapak, Ibu dan Hadirin yang berbahagia langsung saja kita buka
                          penawaran lukisan yang pertama sebesar lima juta rupiah. Siapa yang
                          berminat…Oh itu yang dipojok sudah angkat tangan, nah bapak itu juga, Oh
                          ternyata ada mau enam juta rupiah, oh Ibu itu tujuh juta rupiah. Wow yang di
                          tengah sanggup membayar sepuluh juta rupiah. Ayo ada yang mau menawar
                          lebih tinggi lagi? Oh ada..Bapak yang di belakang menawar dengan harga 20
                          juta rupiah. Masih ada yang mau lagi. Hitungan pertama satu kali, dua kali, tiga
                          kali. Baik untuk lukisan Tiara ini terjual dengan harga 20 juta rupiah. Silakan
                          bapak naik ke panggung untuk mengambil lukisan dan menyampaikan
                          kesannya.

Semua mata tertuju kepada seorang lelaki yang berjalan ke atas panggung. Lelaki yang mengenakan topi itu ternyata Papa Tara. Saat berada di atas panggung ia membuka topinya dan Tara berteriak kaget dan berlari memeluk papanya

Tara     :  Papa…..(mereka berpelukan. Papa membelai rambut Tara)

Setelah berpelukan Papa kemudian menyampaikan kesannya

Papa    : Bapak, Ibu dan Hadirin yang saya hormati, terus terang saya tidak menyangka akan
               bertemu dengan anak yang saya rindukan di acara ini. Saya juga tidak menyangka akan
               bertemu dengan istri dan anak saya, kakak Tara yang sudah lama saya tinggalkan, di
               acara ini juga. Silakan Mama dan Tirza naik ke panggung ini. Tuhan telah
               mempertemukan kita pada acara malam amal ini. Terima kasih Tuhan.

Tirza dan Mama naik ke atas panggung. Tara langsung memeluk Mama dan kakaknya

Papa    : Terus terang saya bangga dengan Tara. Anak sekecil ini sudah berupaya membantu
              orangtuanya. Padahal dia tahu itu bukanlah orangtua kandungnya. Papa bangga        
              padamu nak… Percayalah, Papa berjanji akan membantu seluruh biaya operasi ibu   
              angkatmu ini. Dan kami tidak akan memisahkan kamu dengan ibu angkatmu. Kalian
              boleh tinggal bersama kami…. Tara, kepergianmu telah memberikan banyak pelajaran
              bagi kami. Terima kasih ya Tuhan (papa berlutut di atas panggung sambil mendahkan
              tangannya seakan berdoa)

Cut To

29. INT – Aula Sekolah – Siang hari
      Cast : Tamu dan Seluruh Hadirin

Tamu dan seluruh hadirin langsung berdiri dan bertepuk tangan usai mendengar ucapan papa. Mereka terharu. Sementara itu Tara, Tirza, Mama, papa dan Ibu angkat Tara masih berpelukan di atas panggung.

The End…..