Halaman

Minggu, 06 September 2009

Sajak Hujan

Sajak hujan membasahi bibirmu
aku tenggelam dalam kata membeku
diam diam, aku meneguknya
kecupanmu terasa kian hangat
mengaliri sendi sendi
dan terus tumbuh di taman hatiku:
setangkai melati harum mewangi

Tanjungpinang, 7 September 2009

Jangan Melambai

aku pergi, jangan melambai
cukup sudah tatap mata itu
menikam setiap langkahku

Mari kita tunggu peraduan jarak dan waktu
menakwilkan mimpi di balik selimut malam
berpagut debar dan getar kasih tak sampai

aku pergi, jangan melambai
sebab, akulah lambaian itu: melukis bolamatamu
dengan tinta air mata kerinduan

Tanjunginang, 6 September 2009

Kamis, 03 September 2009

Basah Rambutmu

Pagi ini basah rambutmu
segulung kisah tentang kita jatuh terurai
dalam kusut yang kau sembunyikan
pada selimut malam yang menggigil menanti terang
dan aku menyisir hela demi helai
sambil memasang konde di sanggulmu

Tanjungpinang, 1 September 2009

Minggu, 30 Agustus 2009

Puasa

Ketika haus dan lapar mendera
jiwa menggigil menunggu waktu
Ingin rasanya mendorong mentari
tengelam menuju peraduan malam
lalu, bagai serigala melahap segala rasa

Astaghfirullah...
Hasrat sirna saat berbuka tiba
Setetes air buyarkan segalanya
Alhamdulilah...
nikmat hidup tiada terkira
masihkah kita lupa dan lalai kepadaNya?

Tanjungpinang, 27 Agustus 2009

Menuju Mahsyar

Akhirnya tinggal sendiri
lalu sepi mendekap hati
sederet karangan bunga hanyalah basa basi
sesungguhnya mati adalah keranda abadi
menuju sunyi yang dicari cari

dan batu nisan hanyalah petanda
indahnya peraduan menuju mahsyar

Tanjungpinang, 25 Agustus 2009

Mengeja Alif

Tidakkah kau mengerti
saat kita mulai mengeja dengan alif
berdiri tegak ke hadapanNya
inikah jalan lurus itu?
jalan bagi orang yang dikasihi

lalu? mengapa masih ragu
teruslah mengeja namaNya
hingga di sepertiga malam
Temukan dirimu yang hilang
asyik masyuk di keranda kalbu

Tanjungpinang, 23 Agustus 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

Sepotong Doa


Dan kata-kata mengalir begitu saja
tanpa kita pernah tahu awal dan akhirnya
bersamanya hanyut berjuta makna
tentang hidup tiada bertepi

Akan kemanakah kata?
biarkan ia mencari samuderanya sendiri
Lalu, menenggelamkan kita
pikiran kita, jiwa kita,
dan dosa dosa kita
Bersama kata terselip sepotong doa
Astaghfirullah...

Tanjungpinang, 23 Agustus 2009

Puisi Tentangmu


Demi resah membelenggu
akhirnya kutulis jua
bait rindu menggebubu
pada luhur tatap mata
yang pernah bersemayam
dalam pusara hatiku
sebuah puisi, tentangmu

Tanjungpinang, 22 Agustus 2009

Menjelang Petang


Sayang...kau tawarkan rindu jelang petang
Di sini aku masih menyimpan tatap mata
yang dulu sempat menikam jantung

Kenapa begitu lama termangu
Adakah kesangsian menyelimuti
Dinding hati yang membatu
untuk kuukir pada garis zaman

Puaahhh...
Madukah yang kau poles di bibir
Mengapa begitu pahit saat kukecup


Tanjungpinang, 20 Agustus 2009

Demi Rindu


Demi rindu menggebubu
mengembara di cakrawala
tak sabar menunggu
berdekap di singasana hatiMu

Dan kesangsian langit dan bumi
runtuh bersama keagungan namaMu
jagad raya bertabur cahaya
Subhanallah...
Alhamdulilah...
Allahu Akbar...

Astaghfirullah
biarkan hamba bersamaMu

Tanjungpinang, 20 Agustus 2009

Marhaban Ramadhan


Akhirnya tangispun pecah
Teringat segala yag sudah
Masih adakah maghfirah?
Ketika jiwa semakin lelah

Ya Rabbi
Jangan biarkan aku termangu
dalam gelap merindu cahayaMu
Bersama bulan yang Kau Janjikan
Seisi alam pun merunduk
Sujudku berurai air mata
Marhaban ya Ramadhan...

Tanjungpinang, 19 Agustus 2009

Tanjungpinang


Tambatkan perahu
pelantar merindu
bandar semakin riuh
Hatiku luluh

Tanjungpinang, 3 Agustus 2009

Minggu, 02 Agustus 2009

Merantau


Demi masa depanmu
Demi harga dirimu
sebagai seorang laki laki
Demi adat istiadat kita
Nak...Pergilah merantau
Tinggalkan rumah gadang ini

Dari tanah seberang
Bersama waktu
Kau akan tahu
Siapa dirimu

Oh...Alam terkembang menjadi guru
Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung

Tanjunginang, 3 Agustus 2009

Jiwa Gelisah


Malam gerah
penuh keluh kesah
Mimpi ternoda darah
Jiwa jiwa kehilangan arah
Terperangkap dalam gelap

Angin mendesah
Menampar wajah
Tiang ranjang patah
Jiwa jiwa semakin gelisah
Pada dinding kamar yang pengap

Tanjungpinang, 1 Agustus 2009

Kamis, 30 Juli 2009

Nasehat buat Anakku


Nak..bapak pulang hanya membawa segenggam kerinduan
Tak perlu bersedih
Jangan menangis
Tidur saja
karena kita masih punya mimpi
Semoga laparnya hilang sendiri

Anakku...jika besar nanti
Bapak rela kau jadi pemimpi
Sebab profesi itu tidak akan merugikan orang lain
dan tidak akan bisa korupsi

Anakku...tersenyumlah dalam tidurmu
Biarkan dirimu hanyut bersama mimpi mimpi itu
Karena sebentar lagi kau akan jadi pemimpin

Tanjungpinang, 30 Juli 2009

Sajadah Ibu


Sajak bibir tak lagi menyebut namaMu
Aku terasing dalam diri
Sendiri berlumur sepi
Berlari bersama kegelapan
termangu di setiap persimpangan

Astaghfirullah....
Ke mana arah kan dituju
Sementara fajar sudah menunggu

Wahai lelaki yang berdiri di ujung malam
Tidakkah kau melihat tanda tanda
Yang terhampar pada sajadah Ibumu
Tanpa doa dan linang airmatanya
Kau akan tenggelam

Tanjungpinang, 30 Juli 2009

Rabu, 29 Juli 2009

Istriku Menanak Harapan


Istriku menanak harapan
Dari sisa sisa mimpi semalam
Tatap matanya nanar
Memandang asap melukis langit
"Sayang...kita tak bisa mewarnai," keluhmu
"Padahal aku ingin seperti pelangi," ujarmu

Tanjungpinang, 29 Juli 2009

Senandung Malam


Senandung itu kembali mengalun
Mengusik kesunyian malam
Sepi...
Perih...
Lirih...
Menyayat-nyayat mimpi
Yang terbengkalai

Senandung itu kini sumbang
Mungkinkah ada yang disembunyikan?

Tanjungpinang, 29 Juli 2009

Selasa, 28 Juli 2009

Rindu buat Bapak


Pak...keringatmu adalah mata air
Hidup yang mengalirkan harapan
Untuk kita tanak

Pak...keringatmu adalah wangi melati
Menebar aroma di sepanjang jalan
Untuk kita kenang

Pak...kami rindu
Bersama jalinan doa
Mungkinkah kita berpegangan?

(buat almarhum ayahanda tercinta)
Tanjungpinang, 28 Juli 2009

Suara Hati


Suara hati mencabik malam
Membangunkan tubuh yang sekarat
Ketika jiwa sibuk mengejar mimpi

Di keremangan aku mendengar bisikan itu
Wahai.. yang termangu dalam gelap
Mungkinkah esok pagi menunggumu?
Aku menjadi asing
Meniti lembah sunyi
Hatiku luluh
Kesombonganku jatuh

Lalu azan subuh berkumandang
Aku tersentak...

Tanjungpinang, 27 Juli 2009