Dan senja pun jatuh di kaki langit, baris baris merah perlahan menyeret kelam bersiaplah, karena kita tak akan pernah tahu di peraduan mana mimpi itu ditenggelamkan
Bila jemarimu yang memetik bunga mimpiku, aku rela sebab malam tak akan mampu melarutkan embun menjadi airmata biarlah tangis ini pecah mengoyak kelam lalu pagi menghapus bayang yang tak sempat kubingkai
Kaukah yang menyulut kenangan? saat puing-puing lamunku lindap pada unggun perapian yang gelisah meliukkan cahayanya menjadi kobar yang membakar ranting ranting hatiku
Bersama malam, kularutkan rindu mimpi tiada henti membelah kelam dalam lindapMu aku hanyut terkatung pada sungai takdir yang entah di mana muaranya
Inilah pertaruhan nasib duka perjalanan yang mengalirkan keluh yang teramat kesah kemudian mendamparkankan cinta kasihku di pelataran sajadah kepulangan hanya padaMU...
Di hatimu, aku hanya setangkai ilalang Tumbuh liar sepanjang kemarau gersang Maka siangilah... Karena aku begitu merindu lentik jari yang pernah menggurat dada dengan sebait madah meski tak sempat kubaca
Lama sudah tak singgah di berandamu Masih adakah secangkir kopi terhidang Dalam regukan waktu yang menggigil Aku kembali menikam jejak membatu Sayang tak sempat kita ukir Jadi prasasti pada bingkai sejarah Kelak dibaca oleh anak cucu kita Tentang selembar rasa tak terungkap
Jangan biarkan aku termangu !!! Mengetuk pintu-pintu sepi Di hatimu....
Dalam lambaian terselip segumpal rasa yang membelit jantung. Biarlah detaknya mengukir garis langkahku: Bahwa kita pernah seiring sejalan. Malam ini aku masih menunggu rembulan meminang peraduan mimpi yang tak sempat kita tenun. Perlahan cahayanya menyapa embun yang terlanjur beku di ujung jiwa kita.
Di jejakmu telah kutanam melati kusiram dengan air mata kerinduan pada langkah yang tak lagi berayun meniti sunyi saat purnama tiba sedang malam membeku di jantungku kini baru aku mengerti arti kasihmu
Dirikulah senja, yang menyambut malam dengan belati terhunus menikam pusaran mimpi di ambang fajar. Oh...dikaukah yang menggelepar di ranjang pelaminan itu? Sungguh aku tak sanggup mendengar deru nafasmu memacu pagi.
Jika rindu, bacalah suratku di dalamnya terselip setangkai melati yang pernah tumbuh di laman hati kita Jika rindu, balaslah suratku walau tanpa kata sekalipun karena aku sudah bisa membacanya....
Di linang air matamu, kubasuh luka Ditikam sepi terpaut desah dinihari menunggu pusaran waktu terasa kian panjang saat ratap dan tangis berderai di ujung pelaminan
Di linang airmatamu, kuhanyutkan kisah tentang perih tertusuk mawar berduri